Nama
: Nada Novarinda
Kelas
: XII.TKJ
TEKS
YANG DI PELAJARI DI KELAS SEBELAS
1.
Teks Cerpen
2.
Teks Pantun
3.
Teks Cerita Ulang
4.
Teks Eksplanasi Kompleks
5.
Teks Ulasan/ Review Drama
1.Contoh
Teks Cerpen
KETIKA WAKTU TELAH BERLALU
Karya
Adeline Suriadi
Aku memandangi kamar ini untuk
kesekian kalinya. Yang tergambar dalam benakku sangatlah jelas dan tidak
berubah. Aku teringat kenangan-kenangan bersamanya, kenangan yang tak akan aku
lupakan begitu saja. Aku teringat bagaimana ia selalu ada di sampingku saat senang
maupun susah, karena ia selalu mengerti bagaimana membuatkutersenyum.
Aku seperti dihantam sesuatu. Aku tahu, ini menyakitkan, tetapi aku harus kuat sebagaimana ia berpesan. Ya! Aku tidak akan lagi bertemu dengannya, dihibur olehnya. Bayangan singkat kehidupanku dengannya kembali tergambar jelas, seperti di depanku terdapat sebuah proyektor yang menampilkannya.
Aku seperti dihantam sesuatu. Aku tahu, ini menyakitkan, tetapi aku harus kuat sebagaimana ia berpesan. Ya! Aku tidak akan lagi bertemu dengannya, dihibur olehnya. Bayangan singkat kehidupanku dengannya kembali tergambar jelas, seperti di depanku terdapat sebuah proyektor yang menampilkannya.
Bayangan itu membawaku ke saat-saat dimana aku dan dia
pertama kali berkenalan saat aku keliru menaruh barang-barangku di dalam
lokernya. Dia tertawa, aku tertawa. Aku menanyakan namanya dan dia menanyakan
namaku. Pada saat kenaikan kelas, kami memasuki kelas yang sama.
Kami semakin akrab dengan tempat duduk kami yang diatur berdekatan. Baru aku tahu saat itu bahwa rumahku dan rumahnya hanya berbeda beberapa gang. Ia pun tidak jarang datang ke rumahku untuk mengerjakan tugas. Aku ingat sekali bagaimana saat itu, kami tidak mengerjakan tugas melainkan ke taman dan mengukir nama kami berdua pada sebatang pohon. Kami menambahkan ‘Best Friend Forever’ di bawah nama kami.
Saat lelaki yang sedang kusuka berpacaran dengan perempuan lain, ia menghiburku, merangkulku dan melontarkan candaan-candaan yang membuatku tertawa. Ia tahu apa yang kurasakan walaupun aku tidak mengatakannya. Ia bahkan tahu lelaki yang kusuka walaupun aku tidak pernah menceritakan apapun kepadanya. Ialah yang menjadi alasan mengapa aku dapat kuat hingga detik ini.
Bayangan itu dengan segera berganti ke saat-saat dimana aku sangat panik karena melupakan tugas yang harus dikumpulkan keesokan harinya. Aku menelponnya, dengan harapan ia dapat menenangkanku. Ternyata benar, ia menenangkanku dengan datang ke rumahku dan membantuku membuat tugas hingga selesai, padahal saat itu hari sudah gelap dan kami menyelesaikannya tepat pada saat ayam berkokok pertama kali.
Kami semakin akrab dengan tempat duduk kami yang diatur berdekatan. Baru aku tahu saat itu bahwa rumahku dan rumahnya hanya berbeda beberapa gang. Ia pun tidak jarang datang ke rumahku untuk mengerjakan tugas. Aku ingat sekali bagaimana saat itu, kami tidak mengerjakan tugas melainkan ke taman dan mengukir nama kami berdua pada sebatang pohon. Kami menambahkan ‘Best Friend Forever’ di bawah nama kami.
Saat lelaki yang sedang kusuka berpacaran dengan perempuan lain, ia menghiburku, merangkulku dan melontarkan candaan-candaan yang membuatku tertawa. Ia tahu apa yang kurasakan walaupun aku tidak mengatakannya. Ia bahkan tahu lelaki yang kusuka walaupun aku tidak pernah menceritakan apapun kepadanya. Ialah yang menjadi alasan mengapa aku dapat kuat hingga detik ini.
Bayangan itu dengan segera berganti ke saat-saat dimana aku sangat panik karena melupakan tugas yang harus dikumpulkan keesokan harinya. Aku menelponnya, dengan harapan ia dapat menenangkanku. Ternyata benar, ia menenangkanku dengan datang ke rumahku dan membantuku membuat tugas hingga selesai, padahal saat itu hari sudah gelap dan kami menyelesaikannya tepat pada saat ayam berkokok pertama kali.
Di sela-sela
mengerjakan tugas, ia juga sabar mendengarkan cerita-ceritaku tanpa kuberikan
kepadanya kesempatan sedikit pun untuk berbicara.
Aku kembali menyapukan pandanganku dan melihat satu lembar tiket konser Miley Cyrus, penyanyi luar Indonesia yang paling kami kagumi. Aku mengambilnya dan lagi-lagi pikiranku dipenuhi oleh bayang-bayang. Saat itu, kami duduk di kelas 2 SMA dan sedang menjalani ulangan akhir semester I, lalu kami mendapat kabar bahwa Miley Cyrus akan mengadakan konser di Jakarta. Kami sangat senang sekaligus bingung bagaimana caranya untuk menonton konser tersebut, karena pastinya kami tidak diizinkan.
Aku ingat sekali bagaimana kami menyusun rencana hingga akhirnya kami mendapatkan kesepakatan. Kami pun membeli tiket konser tersebut dengan uang hasil tabungan kami. Tetapi saat hari konser, entah dorongan darimana, aku mengubah rencana dan bersikeras untuk tetap menjalankan rencana yang kubuat. Ia pun dengan sabar menyetujuinya dan kami menjalankan rencana yang kubuat.
“Kau mau ke mana?” tanya papaku saat itu.
“Aku mau ke rumah Iva, Pa.”
“Jangan bohong, Ta, tadi waktu papa ke luar, papa lihat Iva dengan tasnya, kelihatannya dia mau pergi. Papa tahu kau merencanakan sesuatu.”
Begitulah pada akhirnya, karena aku, kami tidak jadi menonton konser Miley. Aku tahu, Iva sangat marah kepadaku. Aku tahu, ia akan benci sekali padaku dan tidak akan percaya pada kata-kataku lagi. Atau mungkin, itu hanyalah perkiraanku.
Nyatanya, setelah kejadian itu, ia tidak menyinggung kesalahanku. Ia malah menguatkanku karena ia tahu bahwa sebenarnya aku sangat ingin menonton konser tersebut.
“Ta, sabar ya! Nanti setelah ulangan akhir ini kita cari-cari konser Miley lagi, sampe ke luar kota pasti dibolehin kok! Sekalian liburan, sekalian nonton konser.”
Ia sama sekali tidak menyalahkanku. Ia sama sekali tidak mencoba untuk mengguruiku. Aku sangat bahagia telah mengenalnya.
Tetapi aku tidak menduga, bahwa kata-kata yang ia janjikan padaku tidak akan pernah ditepatinya. Bukan, bukan karena ia tidak mau, tetapi keadaan telah sepakat untuk menyiksanya.
“Ta, aku harus pergi ke Singapore, aku harus berobat ke sana. Aku sakit, kanker otak.”
“Kamu pasti bercanda…”
“Aku serius. Tetapi, aku akan berusaha untuk kembali ke sini, kok. Aku janji kita bisa ketemu lagi.”
Sejak kepergiannya, kami rutin bertukar e-mail, sekedar menanyakan kabar hingga bercerita yang macam-macam. Saat itu sangat menggembirakan, hingga aku menyadari bahwa waktu sangat berharga. Aku tidak tahu kapan kami akan berpisah. Aku tidak menanyakannya karena aku tahu, itu semua hanya akan memperburuk keadaan. Biarlah hari demi hari berlalu, dengan matahari yang masih menerangi bumi. Biarlah jarak mengambil alih, karena aku tahu, semua akan indah pada waktunya.
“Ta…”
Kudengar seseorang memanggil namaku, seseorang dengan suara bariton yang khas. Mario, kakak laki-laki Iva yang belakangan menjadi sahabatku, lebih dari sahabatku lebih tepatnya. Ia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Ia pun sudah menganggapku sebagai adiknya sendiri setelah ia kehilangan Iva.
Aku tahu, di antara kami, orang-orang terdekat Iva, kakak laki-lakinya-lah yang paling kehilangan, karena ia dan Iva telah bersama sejak kecil. Mario, kakak yang tegar dan selalu menemani Iva saat ia berobat. Mario, kakak yang setia sampai-sampai ia pindah kuliah ke Singapore untuk mendampingi Iva dalam menjalani masa kritisnya.
Aku tidak habis pikir, seseorang sebaik Mario harus menjalani cobaan yang begitu berat. Apakah ketidakadilan di dunia begitu kentalnya sehingga harus menyiksa semua orang yang benar dan menyenangkan semua orang yang salah? Apakah mungkin balasan untuk semua orang benar akan diterima setelah mereka mendapatkan kehidupan yang kekal? Kuharap begitu.
“Ta, kangen sama Iva?” kata Mario mencegah pikiranku untuk berkelana terlalu jauh.
Aku hanya tersenyum, mewakili perasaanku sebenarnya.
“Relakan dia, jangan jadikan kepergiannya sebagai beban dalam hidup. Yakinlah, ia sedang menyiapkan sesuatu yang terbaik di atas sana, bagimu, bagiku, bagi semua orang yang disayanginya. Ia telah sampai di ujung dunia, Ta. Bila saatnya tiba, kita juga akan sampai di sana dan kembali bertemu dengannya. Aku yakin, saat sampai di sana, persiapannya telah selesai. Kau akan menemukan apa yang kau butuhkan, sahabat, keluarga, saudara, dan semuanya abadi, selamanya.”
Aku kembali tersenyum dan membiarkan diriku dirangkul oleh Mario.
“Kak, aku boleh minta sesuatu?”
“Tentu.”
“Jangan pernah tinggalkan aku, ya…”
Mario tersenyum dan perasaanku tenang seketika. Saat itu juga aku sadar, hidupku dikelilingi orang-orang yang baik, karunia dari Tuhan. Dalam hati, aku bertekad untuk memulai hidup yang baru, lembaran pertama dalam sekuel buku yang berjudul kehidupan. Lembaran pada buku pertama telah terisi sampai lembaran terakhir, dipenuhi tentang kenanganku dengan Iva. Saat ini, aku siap memulai lembaran baru pada buku yang baru, dan aku sudah tidak sabar, apa yang akan kuhadapi setelah ini. Aku akan menjalani lembar demi lembar dengan sikap yang baru, Tata yang telah berubah.
Aku kembali menyapukan pandanganku dan melihat satu lembar tiket konser Miley Cyrus, penyanyi luar Indonesia yang paling kami kagumi. Aku mengambilnya dan lagi-lagi pikiranku dipenuhi oleh bayang-bayang. Saat itu, kami duduk di kelas 2 SMA dan sedang menjalani ulangan akhir semester I, lalu kami mendapat kabar bahwa Miley Cyrus akan mengadakan konser di Jakarta. Kami sangat senang sekaligus bingung bagaimana caranya untuk menonton konser tersebut, karena pastinya kami tidak diizinkan.
Aku ingat sekali bagaimana kami menyusun rencana hingga akhirnya kami mendapatkan kesepakatan. Kami pun membeli tiket konser tersebut dengan uang hasil tabungan kami. Tetapi saat hari konser, entah dorongan darimana, aku mengubah rencana dan bersikeras untuk tetap menjalankan rencana yang kubuat. Ia pun dengan sabar menyetujuinya dan kami menjalankan rencana yang kubuat.
“Kau mau ke mana?” tanya papaku saat itu.
“Aku mau ke rumah Iva, Pa.”
“Jangan bohong, Ta, tadi waktu papa ke luar, papa lihat Iva dengan tasnya, kelihatannya dia mau pergi. Papa tahu kau merencanakan sesuatu.”
Begitulah pada akhirnya, karena aku, kami tidak jadi menonton konser Miley. Aku tahu, Iva sangat marah kepadaku. Aku tahu, ia akan benci sekali padaku dan tidak akan percaya pada kata-kataku lagi. Atau mungkin, itu hanyalah perkiraanku.
Nyatanya, setelah kejadian itu, ia tidak menyinggung kesalahanku. Ia malah menguatkanku karena ia tahu bahwa sebenarnya aku sangat ingin menonton konser tersebut.
“Ta, sabar ya! Nanti setelah ulangan akhir ini kita cari-cari konser Miley lagi, sampe ke luar kota pasti dibolehin kok! Sekalian liburan, sekalian nonton konser.”
Ia sama sekali tidak menyalahkanku. Ia sama sekali tidak mencoba untuk mengguruiku. Aku sangat bahagia telah mengenalnya.
Tetapi aku tidak menduga, bahwa kata-kata yang ia janjikan padaku tidak akan pernah ditepatinya. Bukan, bukan karena ia tidak mau, tetapi keadaan telah sepakat untuk menyiksanya.
“Ta, aku harus pergi ke Singapore, aku harus berobat ke sana. Aku sakit, kanker otak.”
“Kamu pasti bercanda…”
“Aku serius. Tetapi, aku akan berusaha untuk kembali ke sini, kok. Aku janji kita bisa ketemu lagi.”
Sejak kepergiannya, kami rutin bertukar e-mail, sekedar menanyakan kabar hingga bercerita yang macam-macam. Saat itu sangat menggembirakan, hingga aku menyadari bahwa waktu sangat berharga. Aku tidak tahu kapan kami akan berpisah. Aku tidak menanyakannya karena aku tahu, itu semua hanya akan memperburuk keadaan. Biarlah hari demi hari berlalu, dengan matahari yang masih menerangi bumi. Biarlah jarak mengambil alih, karena aku tahu, semua akan indah pada waktunya.
“Ta…”
Kudengar seseorang memanggil namaku, seseorang dengan suara bariton yang khas. Mario, kakak laki-laki Iva yang belakangan menjadi sahabatku, lebih dari sahabatku lebih tepatnya. Ia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Ia pun sudah menganggapku sebagai adiknya sendiri setelah ia kehilangan Iva.
Aku tahu, di antara kami, orang-orang terdekat Iva, kakak laki-lakinya-lah yang paling kehilangan, karena ia dan Iva telah bersama sejak kecil. Mario, kakak yang tegar dan selalu menemani Iva saat ia berobat. Mario, kakak yang setia sampai-sampai ia pindah kuliah ke Singapore untuk mendampingi Iva dalam menjalani masa kritisnya.
Aku tidak habis pikir, seseorang sebaik Mario harus menjalani cobaan yang begitu berat. Apakah ketidakadilan di dunia begitu kentalnya sehingga harus menyiksa semua orang yang benar dan menyenangkan semua orang yang salah? Apakah mungkin balasan untuk semua orang benar akan diterima setelah mereka mendapatkan kehidupan yang kekal? Kuharap begitu.
“Ta, kangen sama Iva?” kata Mario mencegah pikiranku untuk berkelana terlalu jauh.
Aku hanya tersenyum, mewakili perasaanku sebenarnya.
“Relakan dia, jangan jadikan kepergiannya sebagai beban dalam hidup. Yakinlah, ia sedang menyiapkan sesuatu yang terbaik di atas sana, bagimu, bagiku, bagi semua orang yang disayanginya. Ia telah sampai di ujung dunia, Ta. Bila saatnya tiba, kita juga akan sampai di sana dan kembali bertemu dengannya. Aku yakin, saat sampai di sana, persiapannya telah selesai. Kau akan menemukan apa yang kau butuhkan, sahabat, keluarga, saudara, dan semuanya abadi, selamanya.”
Aku kembali tersenyum dan membiarkan diriku dirangkul oleh Mario.
“Kak, aku boleh minta sesuatu?”
“Tentu.”
“Jangan pernah tinggalkan aku, ya…”
Mario tersenyum dan perasaanku tenang seketika. Saat itu juga aku sadar, hidupku dikelilingi orang-orang yang baik, karunia dari Tuhan. Dalam hati, aku bertekad untuk memulai hidup yang baru, lembaran pertama dalam sekuel buku yang berjudul kehidupan. Lembaran pada buku pertama telah terisi sampai lembaran terakhir, dipenuhi tentang kenanganku dengan Iva. Saat ini, aku siap memulai lembaran baru pada buku yang baru, dan aku sudah tidak sabar, apa yang akan kuhadapi setelah ini. Aku akan menjalani lembar demi lembar dengan sikap yang baru, Tata yang telah berubah.
JANGAN BENCI DIA
Karya Imaf Hanida
Prilly
berlari sambil menangis. Air matanya meronai sepatu putihnya. Dia terus berlari
menerabas angin. Berulang kali punggung telapak tangannya menghapus anak sungai
di pipinya. Tak peduli kepada para siswa yang menatap dia penuh tanda tanya.
Dia tetap berlari menunduk, menatap lantai yang akan diinjaknya.
Kemana
rasa kecewa, malu amarah, dan seabrek perasaan abstrak ini dilarikan.
“Prilly, kamu mau kemana?” Farida kepayahan mengejar sosok berwajah melayu itu.
“Prilly jangan lari! Berhenti, kumohon. Aku akan memahamimu. Aku sahabatmu. Kamu takkan kuat menyimpan semua itu sendirian. Aku ingin mengerti kamu,”
“Prilly, kamu mau kemana?” Farida kepayahan mengejar sosok berwajah melayu itu.
“Prilly jangan lari! Berhenti, kumohon. Aku akan memahamimu. Aku sahabatmu. Kamu takkan kuat menyimpan semua itu sendirian. Aku ingin mengerti kamu,”
Prilly berhenti di
bangku samping mushola. Ia memegang kedua lututnya dan mengatur irama napas.
“Duduklah! Nabi mengajarkan kita untuk duduk saat amarah hadir di diri kita,” Farida menepuk bangku itu.
Dua gadis kelas 9 itu duduk. Mata Prilly tetap merah sembab dan ingusnya mencair. Farida mengelus-elus punggung Prilly dengan tersenyum ramah. Senyum yang selalu dipersembahkan Farida tiap Prilly sedih.
“Aku punya harga diri. Pak Hamzah tak berhak menginjak-injak aku. Semut pun tak mau diinjak-injak kan. Kalau aku lemah, dia makin merasa jagoan.”
“Jadi kamu benci dia?” Farida bertanya. Prilly mengangguk lesu.
“Susah memang memaafkan orang yang telah menghancurkan perasaan kita. Tapi aku beri tahu Prill, semakin banyak orang yang kamu benci, pergaulan dan duniamua akan semakin sempit. Pergerakanmu akan semakin terbatas,” Farida mendekatkan wajahnya. Berharap Prilly akan melihat senyumnya yang selalu menenangkan hati yang bergejolak. Sayangnya Prilly tetap menunduk.
“Aku harus lawan, Farida. Kalahin. Supaya dia nggak sombong lagi. Dia bakal makin angkuh kalau aku drop.”
“Prilly.....kamu......”
“Kamu berkata seperti itu karena kamu tidak merasakan langsung. Kamu tidak tahu perasaanku!” Prilly meninggikan suara. Wajahnya masih merah padam tak karuan. Farida mengeluarkan teh kotak dari kantongnya dan mencoblos dengan sedotan
“Buat kamu Prilly, supaya tenang. Kalau udah kamu wudhu supaya amarahmu terhapus,” Farida menghela napas yang terasa menyangkut. Lalu dia melanjutkan,”Aku tahu perasaanmu, sangat tahu. Karena aku sahabamu. Kamu adalah jiwa yang lembut. Tapi mengapa kamu....” Farida menggantungkan kata-kata.
“Farida! Ini terlalu perih. Dia tidak menghargai karyaku. Berkarya itu tidak mudah. Dan karyaku itu benar-benar kubuat dengan hati dan perasaan. Dia terlalu angkuh. Mentang-mentang puisi dia tiap tahun selalu masuk antalogi puisi terbaik se-provinsi.”
Farida menggeleng. Tingkah pak Hamzah memang sudah keterlaluan. “Prilly, ingatlah, Rasulullah memaafkan orang yang pernah mencoba membunuh beliau bahkan sebelum dia meminta maaf kepada Rasulullah,”
Beberapa menit sebelumnya, Prilly meleleh karena direbus oleh amarah pak Hamzah.
“Jangan merasa hebat kamu! Kamu tidak menghargai pelajaran saya!” Teriakannya seperti pecutan iblis. Dia gebrak meja hingga jantung siswa berlompatan.
“Prilly, kamu kira kamu sudah pintar? Saya lelah mengajari kamu!”
Butiran mutiara mulai berlinang di pipi Prilly. Pak hamzah memungut puisi Prilly.
“Apa ini? Tak karuan! Tanpa rima, baitnya acak-acakan. Kata-katanya terlalu biasa. Dan isinya? Cengeng! Tak bermutu! Dasar remaja sekarang. Cuma bisa buat puisi galau, “ darah pak Hamzah mendidih hingga ke ubun-ubun.
“Buat apa kamu saya ajari rima dan majas sampai mulut saya kering? Payah kamu!”
“jangan bohong!” Pak Hamzah meremas-remas dan membanting puisi itu seperti rudal. Tepat di depan kelas, di depan teman-teman Prilly. Saat itulah hati prilly luluh sempurna, menjadi remahan tak berwujud.
Jutaan sembilu melukai hati Prilly. Bukan kali ini saja sebenarnya. Sudah sering pak Hamzah merendahkan karya Prilly. Bisa dikatakan Prilly menciptakan karya hanya sebagai bahan bakar hinaan berikutnya. Biasanya Prilly selalu sabar dengan hinaan itu. Keinginan yang kuat untuk menjadi penulis besar justru menganggap tiap cibiran pedas pak Hamzah sebagai masukkan dan bahan evaluasi bagi karyanya. Ya jika tidak dikritik, kita tak tahu kan letak kekurangan kita.
Dan tentu saja, yang membuat Prilly selalu tersenyum adalah Farida. Seorang sahabat yang bagi Prilly ebih indah dari mutiara surga. Lebih berarti dari ratusan puisinya. Bagi Prilly, sahabat bagai puisi yang tak berujung. Tiada karya seni atau sastra yang bisa menjelaskan sejuknya persahabatan seperti yang dirasakan Prilly terhadap Farida. Tiada satu pun kata di kamus umat manusia yang bisa menggambarkan untaian perasaan ini. Semua bagai awan yang selalu abstrak, selalu berubah wujud. Tapi selalu indah dan sedap dipandang.
Saat Prilly bertanya,”Farida, kenapa sih pak Hamzah benci banget sama aku?”
“Mungkin pak Hamzah sebenarnya nyari perhatian sama kamu kali. Kali aja sebenarnya dia ngefans sama kamu, haha”
“Ih, nggak lucu! Beneran ah,” jawab Prilly dengan mendorong pundak Farida.
“Hmm, kenapa ya. Dia itu iri kali. Gengsi. Takut kemampuan puisinya dikalahin sama siswanya sendiri. Jadi dia berusaha bikin kamu drop.
“Memang begitu. Tidak semua orang bisa merasa menyukai dan menghargai kita. Adaaa aja satu dua yang sirik. Tinggal bagaimana kita menyingkapinya sih.”
“Tapi aku tahu kamu pintar, kamu bisa berpikir jernih. Kamu bisa menahan diri untuk tidak buru-buru membenci orang.”
Sejak peristiwa pembantingan puisi itu, Prilly selalu terlihat tak bergairah di pelajaran bahasa Indonesia. Dia hanya menempelkan pipinya ke meja dan mengayun-ayunkan kaki. Lemas seperti orang kena anemia.
Kasihan, Prilly yang selalu paling antusias di pelajaran bahasa, sekarang malah paling lemas kalau belajar bahasa, Farida membatin. Ternyata selama ini memang Prilly selalu menahan emosinya, tapi benteng kesabaran itu akhirnya jebol juga. Yang Farida inginkan senyuman itu bisa kembali terpampang di wajah sahabatnya.
“Prilly, angkat kepalamu!” Pak Hamzah mulai mengaum. Membuat jantung Prilly melompat.
“Masih sombong kamu? Ha? Tak mau dengarkan saya?! Kamu kira saya ini mengoceh?”
“Kalau kamu masuk kelas saya, kamu harus ikuti pelajaran saya dengan baik! Kalau tak mau, keluar saja sana!” Pak Hamzah membanting penggaris kayu. Prilly tertunduk. Dalam sekian detik, otaknya terus berputar mencari jalan. Seisi kelas membisu. Perlahan Prilly berdiri, dan mengankat kepalanya dengan mantap. Tatapan matanya setajam sembilu, dia beradu pandang dengan pak Hamzah. Belum pernah tatapan Prilly begitu tajam. Dahinya berkerut. Seluruh pandangan jatuh kepada Prilly.
“Prilly, apa yang kamu lakukan?” Farida menarik tangan Prilly agar duduk kembali.
“Saya akan keluar!” Jawaban itu menampar setiap sudut kelas. Belum pernah ada siswa yang berani pada pak Hamzah yang buas.
“Prilly, kamu nekat! Salah mengambil keputusan membuatmu bersalah selamanya,”Farida berbisik. Tapi Prilly terlanjur berlalu dan membanting pintu kelas.
Saat bel istirahat, Farida segera mencari Prilly di perpustakaan.
“Prilly, apa yang kamu lakukan? Berpikirlah jernih, please. Kamu bukan anak kecil”
“Justru karena aku berpikir jernih, aku memilih keluar dan mempelajari bahasa sendiri. Memilih mencelupkan diri dalam minyak panas hanyalah pilihan bodoh.”
“Kemarahan dibalas kemarahan. Seperti batu diadu dengan batu. Keduanya akan hancur menjadi pasir. Lagipula kita tak tahu apa yang dipikirkan pak Hamzah. Belum tentu dia membencimu. Mungkin dia menunjukkan sikap seolah membencimu karena ada sesuatu yang sengaja dia sembunyikan. Dan dia ingin kamu menemukan yang dia sembunyikan itu.
Dia kan orang sastra, kamu juga orang sastra. Setahuku orang sastra memang suka menggunakan kiasan dalam berkomunikasi dan berperilaku. Coba perhatikan, dia hanya melakukan ini padamu. Mungkin dia tahu, kamu orang sastra, jadi dia yakin kamu akan menemukan arti dari sikap dia padamu,”
“Sudahlah, Farida. Aku bahkan tak mau mendengar namanya lagi,”
“Ok, lalu selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku punya rencana. Aku ingat, pak Hamzah selalu mengirimkan puisinya dan selalu masuk antalogi. Aku akan menyainginya. Aku akan mengirimkan puisiku juga. Jika puisiku jadi satu antalogi dengan dia, artinya puisiku sudah menyaingi puisi dia. Bila itu terjadi, kita yang akan menyenyumi dia. Akan kutunjukkan, aku bisa membuat puisi bagus tanpa mengikuti pelajaran dia,”
“Prilly, aku hanya berusaha membuat semuanya terasa lebih baik. Berpikirlah lebih luas dan lebih jauh. Jangan sempitkan pikiranmu. Apa menurutmu ini akan berhasil?”
“Kumohon Farida, tinggalkan aku! Aku bisa urus diriku sendiri!” Suara Prilly yang meninggi membuat Farida perlahan mundur dan berlalu.
Sudah hampir sebulan terlewat. Artinya sudah tujuh kali Prilly dialfakan di pelajaran bahasa Indonesia. Prilly terlalu kuat dengan pilihannya.
Hari ini secara tiba-tiba pak Hamzah mengumumkan bahwa beberapa minggu lagi dirinya tidak mengajar di sekolah itu lagi. Sebagian besar siswa pasti bersorak dalam hatinya. Tapi tidak dengan Farida.
“Prilly, pak Hamzah mau keluar,”
“Benarkah? Yes, makhluk pengacau itu akhirnya pergi juga,”
“Aku justru mengkhawatirkanmu. Apakah kau tidak mau saling maaf dan memaafkan di detik-detik akhirnya?”
“Apa pentingnya itu? Maksudku, seharusnya dia yang meminta maaf padaku.”
“Kamu yakin kamu sendiri tidak punya salah pada beliau? Dan menurutku, apa tidak sebaiknya kamu yang memaafkan dia? Sebelum terlambat, lakukan itu. Atau kamu akan membawa luka dan gelisah itu selamanya. Prilly, tatap mataku!” Farida menyejajarkan wajahnya dengan wajah Prily.
“Aku sahabatmu. Aku yang bertanggung jawab membantu sahabatku keluar dari masalahnya dengan cara yang benar. Aku juga yang harus menjaga perasaan seorang sahabat agar terus sejuk,” Farida menatap Prilly dalam-dalam.
Farida memelankan suara,“Lagipula Prilly, jika kamu membuat puisi untuk menyaingi pak Hamzah, artinya kamu menulis puisi dengan ditenagai kebencian. Kamu gunakan rasa tidak suka sebagai energi menulis puisi. Itukah puisi yang bagus? Bukankah semua penyair tahu, puisi yang indah dibuat sepenuh hati dengan mengandalkan segenap perasaan. Barkan nurani yang bicara. Lalu biarkan tanganmu yang menari, menumpahkan luapan hati itu ke kertas. Bukan didasarkan pada rasa ingin mengalahkan dan menghancurkan,” bibir Farida bergetar. Prilly menelan kata-kata itu. Dia menunduk, wajahnya melukiskan perasaan yang sulit digambarkan. Ada penyesalan, rasa bersalah, dan keraguan.
Beberapa hari kemudiah Prilly kembali tampak di pelajaran bahasa Indonesia. Bahkan dia hadir dengan senyum lebar dan memercikkan keceriaan. Tampak begitu enerjik dan antusias mengikuti pelajaran. Semua amarah dan rasa tidak sukanya sudah dia buang bersama lukanya, dia larutkan bersama angin. Pagi ini Prilly dengan senang hati membantu pak Hamzah menghapus papan tulis dengan senyum simpul yang hiasi wajahnya. Belum pernah Prilly tersenyum begitu lembut dan tulus kepada pak Hamzah. Prilly juga yang pertama mengacungkan tangan untuk menjelaskan definisi pidato. Prilly memandang wajah pak Hamzah dengan penuh rasa hormat. Dalam tatapan matanya, Prilly mengisyaratkan, pak Hamzah, maafkan Prilly ya. Saya juga sudah sepenuh hati memaafkan Bapak. Saya ingin kita terus menjalin hubungan baik, sebelum semua terlambat.
Farida tergopoh-gopoh menyambar kelas sepagi ini. Masih sangat pagi. Kabut masih mengambang di cakrawala. Ketika Farida sampai kelas, seperti biasa, Prilly selalu menjadi siswa yang pertama sampai di kelas.
“Prilly, coba lihat ini,” Farida amat terburu-buru.
“Ada apa? Tenanglah, Far. Apa ini sangat penting?”
Farida lalu menyodorkan sebuah buku yang nampak masih sangat baru. Lalu secepat kedipan mata dia membuka-buka halamannya. Hingga berhenti di halaman 27.
“Ini Puisimu Prilly! Masuk antalogi! Kamu berhasil!”
“Hah, Subhanallah. Ini kah puisiku?” Prilly menjatuhkan buku itu lalu memeluk Farida.
“Puisi ini kamu buat dengan hati kan?”
“Iya, puisi ini kutulis malam ketika aku memutuskan untuk memaafkan pak Hamzah,”
“Eh, kita lihat, apakah karya pak Hamzah juga ada di antalogi puisi ini,”
Farida dan Prilly membalik-balik halamanya. Tapi mereka tak menemukan satu pun puisi yang tertulis,”Karya Hamzah Irawan.”
“Far, karya pak Hamzah tidak ada! Aneh. Padalah selama empat tahun berturu-turut karya beliau selalu masuk,”
“Wah, artinya kamu sudah benar-benar mengalahkan beliau.”
“Aku malah merasa sebaliknya. Aku merasa tidak enak dengan beliau. Aku meras tidak rela jika puisiku masuk antalogi, tapi karya beliau tidak,” perasaan tidak nyaman langsung mempermainkan Prilly. Selama beberapa saat tidak ada suara. Sementara Farida membuka-buka kembali buku itu, dia membaca halaman pertama.
“Hmm, buku Antalogi Puisi Tingkat Provinsi tahun 2013 diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Puisi-puisi di sini adalah puisi terbaik yang dipilih oleh tim juri. Tahun ini tim juri diketuai oleh Hamzah Irawan....,” Farida menggantungkan kata-kata. Farida dan Prilly beratatapan.
“Prilly, kamu tahu apa artinya?”
“Pantas puisi pak Hamzah tak ada. Beliau adalah ketua tim juri. Dan pak Hamzah yang memilih puisiku untuk masuk antalogi ini,”
“Artinya pak Hamzah menghargaimu. Pak Hamzah pasti menyayangimu. Kamu harus mengucapkan terima kasih,” Farida berkata cepat. Prilly mengangguk.
Tapi seharian ini mereka sama sekali tidak melihat wajah pak Hamzah. Teh di mejanya di kantor tetap penuh. Tasnya pun tidak ada. Akhirnya mereka ingat, kemarin adalah hari terakhir pak Hamzah mengajar. Hari ini pak Hamzah sudah tidak di sini lagi.
Bu Sulvian, wali kelas mereka mendatangi Prilly dengan sepucuk surat.
“Kemarin pak Hamzah menitipkan surat ini untuk Prilly,”
Dengan segera Prilly membuka surat itu. Prilly dan Farida membacanya bersama-sama.
Bapak tidak pernah membenci Prilly. Justru bapak sangat bangga dengan Prilly yang sangat semangat menjadi penulis dan penyair. Bapak lakukan ini semua untuk menunjukkan pada Prilly bahwa memang untuk menjadi penulis kamu akan menemukan banyak cobaan , kekecewaan, dan kepedihan. Jika kamu sudah bersungguh-sungguh menjadi penulis, cobaan yang Prilly dapat akan jauh lebih banyak dan lebih dahsyat dari yang bapak lakukan pada Prilly. Dan ternyata Prilly memang bisa melalui cobaan yang bapak berikan. Bapak yakin Prilly bisa menghadapi cobaan yang lain dan Prilly bisa menjadi penulis besar seperti yang Prilly inginkan. Prilly adalah siswi terbaik.
Salam untuk Farida.
“Duduklah! Nabi mengajarkan kita untuk duduk saat amarah hadir di diri kita,” Farida menepuk bangku itu.
Dua gadis kelas 9 itu duduk. Mata Prilly tetap merah sembab dan ingusnya mencair. Farida mengelus-elus punggung Prilly dengan tersenyum ramah. Senyum yang selalu dipersembahkan Farida tiap Prilly sedih.
“Aku punya harga diri. Pak Hamzah tak berhak menginjak-injak aku. Semut pun tak mau diinjak-injak kan. Kalau aku lemah, dia makin merasa jagoan.”
“Jadi kamu benci dia?” Farida bertanya. Prilly mengangguk lesu.
“Susah memang memaafkan orang yang telah menghancurkan perasaan kita. Tapi aku beri tahu Prill, semakin banyak orang yang kamu benci, pergaulan dan duniamua akan semakin sempit. Pergerakanmu akan semakin terbatas,” Farida mendekatkan wajahnya. Berharap Prilly akan melihat senyumnya yang selalu menenangkan hati yang bergejolak. Sayangnya Prilly tetap menunduk.
“Aku harus lawan, Farida. Kalahin. Supaya dia nggak sombong lagi. Dia bakal makin angkuh kalau aku drop.”
“Prilly.....kamu......”
“Kamu berkata seperti itu karena kamu tidak merasakan langsung. Kamu tidak tahu perasaanku!” Prilly meninggikan suara. Wajahnya masih merah padam tak karuan. Farida mengeluarkan teh kotak dari kantongnya dan mencoblos dengan sedotan
“Buat kamu Prilly, supaya tenang. Kalau udah kamu wudhu supaya amarahmu terhapus,” Farida menghela napas yang terasa menyangkut. Lalu dia melanjutkan,”Aku tahu perasaanmu, sangat tahu. Karena aku sahabamu. Kamu adalah jiwa yang lembut. Tapi mengapa kamu....” Farida menggantungkan kata-kata.
“Farida! Ini terlalu perih. Dia tidak menghargai karyaku. Berkarya itu tidak mudah. Dan karyaku itu benar-benar kubuat dengan hati dan perasaan. Dia terlalu angkuh. Mentang-mentang puisi dia tiap tahun selalu masuk antalogi puisi terbaik se-provinsi.”
Farida menggeleng. Tingkah pak Hamzah memang sudah keterlaluan. “Prilly, ingatlah, Rasulullah memaafkan orang yang pernah mencoba membunuh beliau bahkan sebelum dia meminta maaf kepada Rasulullah,”
Beberapa menit sebelumnya, Prilly meleleh karena direbus oleh amarah pak Hamzah.
“Jangan merasa hebat kamu! Kamu tidak menghargai pelajaran saya!” Teriakannya seperti pecutan iblis. Dia gebrak meja hingga jantung siswa berlompatan.
“Prilly, kamu kira kamu sudah pintar? Saya lelah mengajari kamu!”
Butiran mutiara mulai berlinang di pipi Prilly. Pak hamzah memungut puisi Prilly.
“Apa ini? Tak karuan! Tanpa rima, baitnya acak-acakan. Kata-katanya terlalu biasa. Dan isinya? Cengeng! Tak bermutu! Dasar remaja sekarang. Cuma bisa buat puisi galau, “ darah pak Hamzah mendidih hingga ke ubun-ubun.
“Buat apa kamu saya ajari rima dan majas sampai mulut saya kering? Payah kamu!”
“jangan bohong!” Pak Hamzah meremas-remas dan membanting puisi itu seperti rudal. Tepat di depan kelas, di depan teman-teman Prilly. Saat itulah hati prilly luluh sempurna, menjadi remahan tak berwujud.
Jutaan sembilu melukai hati Prilly. Bukan kali ini saja sebenarnya. Sudah sering pak Hamzah merendahkan karya Prilly. Bisa dikatakan Prilly menciptakan karya hanya sebagai bahan bakar hinaan berikutnya. Biasanya Prilly selalu sabar dengan hinaan itu. Keinginan yang kuat untuk menjadi penulis besar justru menganggap tiap cibiran pedas pak Hamzah sebagai masukkan dan bahan evaluasi bagi karyanya. Ya jika tidak dikritik, kita tak tahu kan letak kekurangan kita.
Dan tentu saja, yang membuat Prilly selalu tersenyum adalah Farida. Seorang sahabat yang bagi Prilly ebih indah dari mutiara surga. Lebih berarti dari ratusan puisinya. Bagi Prilly, sahabat bagai puisi yang tak berujung. Tiada karya seni atau sastra yang bisa menjelaskan sejuknya persahabatan seperti yang dirasakan Prilly terhadap Farida. Tiada satu pun kata di kamus umat manusia yang bisa menggambarkan untaian perasaan ini. Semua bagai awan yang selalu abstrak, selalu berubah wujud. Tapi selalu indah dan sedap dipandang.
Saat Prilly bertanya,”Farida, kenapa sih pak Hamzah benci banget sama aku?”
“Mungkin pak Hamzah sebenarnya nyari perhatian sama kamu kali. Kali aja sebenarnya dia ngefans sama kamu, haha”
“Ih, nggak lucu! Beneran ah,” jawab Prilly dengan mendorong pundak Farida.
“Hmm, kenapa ya. Dia itu iri kali. Gengsi. Takut kemampuan puisinya dikalahin sama siswanya sendiri. Jadi dia berusaha bikin kamu drop.
“Memang begitu. Tidak semua orang bisa merasa menyukai dan menghargai kita. Adaaa aja satu dua yang sirik. Tinggal bagaimana kita menyingkapinya sih.”
“Tapi aku tahu kamu pintar, kamu bisa berpikir jernih. Kamu bisa menahan diri untuk tidak buru-buru membenci orang.”
Sejak peristiwa pembantingan puisi itu, Prilly selalu terlihat tak bergairah di pelajaran bahasa Indonesia. Dia hanya menempelkan pipinya ke meja dan mengayun-ayunkan kaki. Lemas seperti orang kena anemia.
Kasihan, Prilly yang selalu paling antusias di pelajaran bahasa, sekarang malah paling lemas kalau belajar bahasa, Farida membatin. Ternyata selama ini memang Prilly selalu menahan emosinya, tapi benteng kesabaran itu akhirnya jebol juga. Yang Farida inginkan senyuman itu bisa kembali terpampang di wajah sahabatnya.
“Prilly, angkat kepalamu!” Pak Hamzah mulai mengaum. Membuat jantung Prilly melompat.
“Masih sombong kamu? Ha? Tak mau dengarkan saya?! Kamu kira saya ini mengoceh?”
“Kalau kamu masuk kelas saya, kamu harus ikuti pelajaran saya dengan baik! Kalau tak mau, keluar saja sana!” Pak Hamzah membanting penggaris kayu. Prilly tertunduk. Dalam sekian detik, otaknya terus berputar mencari jalan. Seisi kelas membisu. Perlahan Prilly berdiri, dan mengankat kepalanya dengan mantap. Tatapan matanya setajam sembilu, dia beradu pandang dengan pak Hamzah. Belum pernah tatapan Prilly begitu tajam. Dahinya berkerut. Seluruh pandangan jatuh kepada Prilly.
“Prilly, apa yang kamu lakukan?” Farida menarik tangan Prilly agar duduk kembali.
“Saya akan keluar!” Jawaban itu menampar setiap sudut kelas. Belum pernah ada siswa yang berani pada pak Hamzah yang buas.
“Prilly, kamu nekat! Salah mengambil keputusan membuatmu bersalah selamanya,”Farida berbisik. Tapi Prilly terlanjur berlalu dan membanting pintu kelas.
Saat bel istirahat, Farida segera mencari Prilly di perpustakaan.
“Prilly, apa yang kamu lakukan? Berpikirlah jernih, please. Kamu bukan anak kecil”
“Justru karena aku berpikir jernih, aku memilih keluar dan mempelajari bahasa sendiri. Memilih mencelupkan diri dalam minyak panas hanyalah pilihan bodoh.”
“Kemarahan dibalas kemarahan. Seperti batu diadu dengan batu. Keduanya akan hancur menjadi pasir. Lagipula kita tak tahu apa yang dipikirkan pak Hamzah. Belum tentu dia membencimu. Mungkin dia menunjukkan sikap seolah membencimu karena ada sesuatu yang sengaja dia sembunyikan. Dan dia ingin kamu menemukan yang dia sembunyikan itu.
Dia kan orang sastra, kamu juga orang sastra. Setahuku orang sastra memang suka menggunakan kiasan dalam berkomunikasi dan berperilaku. Coba perhatikan, dia hanya melakukan ini padamu. Mungkin dia tahu, kamu orang sastra, jadi dia yakin kamu akan menemukan arti dari sikap dia padamu,”
“Sudahlah, Farida. Aku bahkan tak mau mendengar namanya lagi,”
“Ok, lalu selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku punya rencana. Aku ingat, pak Hamzah selalu mengirimkan puisinya dan selalu masuk antalogi. Aku akan menyainginya. Aku akan mengirimkan puisiku juga. Jika puisiku jadi satu antalogi dengan dia, artinya puisiku sudah menyaingi puisi dia. Bila itu terjadi, kita yang akan menyenyumi dia. Akan kutunjukkan, aku bisa membuat puisi bagus tanpa mengikuti pelajaran dia,”
“Prilly, aku hanya berusaha membuat semuanya terasa lebih baik. Berpikirlah lebih luas dan lebih jauh. Jangan sempitkan pikiranmu. Apa menurutmu ini akan berhasil?”
“Kumohon Farida, tinggalkan aku! Aku bisa urus diriku sendiri!” Suara Prilly yang meninggi membuat Farida perlahan mundur dan berlalu.
Sudah hampir sebulan terlewat. Artinya sudah tujuh kali Prilly dialfakan di pelajaran bahasa Indonesia. Prilly terlalu kuat dengan pilihannya.
Hari ini secara tiba-tiba pak Hamzah mengumumkan bahwa beberapa minggu lagi dirinya tidak mengajar di sekolah itu lagi. Sebagian besar siswa pasti bersorak dalam hatinya. Tapi tidak dengan Farida.
“Prilly, pak Hamzah mau keluar,”
“Benarkah? Yes, makhluk pengacau itu akhirnya pergi juga,”
“Aku justru mengkhawatirkanmu. Apakah kau tidak mau saling maaf dan memaafkan di detik-detik akhirnya?”
“Apa pentingnya itu? Maksudku, seharusnya dia yang meminta maaf padaku.”
“Kamu yakin kamu sendiri tidak punya salah pada beliau? Dan menurutku, apa tidak sebaiknya kamu yang memaafkan dia? Sebelum terlambat, lakukan itu. Atau kamu akan membawa luka dan gelisah itu selamanya. Prilly, tatap mataku!” Farida menyejajarkan wajahnya dengan wajah Prily.
“Aku sahabatmu. Aku yang bertanggung jawab membantu sahabatku keluar dari masalahnya dengan cara yang benar. Aku juga yang harus menjaga perasaan seorang sahabat agar terus sejuk,” Farida menatap Prilly dalam-dalam.
Farida memelankan suara,“Lagipula Prilly, jika kamu membuat puisi untuk menyaingi pak Hamzah, artinya kamu menulis puisi dengan ditenagai kebencian. Kamu gunakan rasa tidak suka sebagai energi menulis puisi. Itukah puisi yang bagus? Bukankah semua penyair tahu, puisi yang indah dibuat sepenuh hati dengan mengandalkan segenap perasaan. Barkan nurani yang bicara. Lalu biarkan tanganmu yang menari, menumpahkan luapan hati itu ke kertas. Bukan didasarkan pada rasa ingin mengalahkan dan menghancurkan,” bibir Farida bergetar. Prilly menelan kata-kata itu. Dia menunduk, wajahnya melukiskan perasaan yang sulit digambarkan. Ada penyesalan, rasa bersalah, dan keraguan.
Beberapa hari kemudiah Prilly kembali tampak di pelajaran bahasa Indonesia. Bahkan dia hadir dengan senyum lebar dan memercikkan keceriaan. Tampak begitu enerjik dan antusias mengikuti pelajaran. Semua amarah dan rasa tidak sukanya sudah dia buang bersama lukanya, dia larutkan bersama angin. Pagi ini Prilly dengan senang hati membantu pak Hamzah menghapus papan tulis dengan senyum simpul yang hiasi wajahnya. Belum pernah Prilly tersenyum begitu lembut dan tulus kepada pak Hamzah. Prilly juga yang pertama mengacungkan tangan untuk menjelaskan definisi pidato. Prilly memandang wajah pak Hamzah dengan penuh rasa hormat. Dalam tatapan matanya, Prilly mengisyaratkan, pak Hamzah, maafkan Prilly ya. Saya juga sudah sepenuh hati memaafkan Bapak. Saya ingin kita terus menjalin hubungan baik, sebelum semua terlambat.
Farida tergopoh-gopoh menyambar kelas sepagi ini. Masih sangat pagi. Kabut masih mengambang di cakrawala. Ketika Farida sampai kelas, seperti biasa, Prilly selalu menjadi siswa yang pertama sampai di kelas.
“Prilly, coba lihat ini,” Farida amat terburu-buru.
“Ada apa? Tenanglah, Far. Apa ini sangat penting?”
Farida lalu menyodorkan sebuah buku yang nampak masih sangat baru. Lalu secepat kedipan mata dia membuka-buka halamannya. Hingga berhenti di halaman 27.
“Ini Puisimu Prilly! Masuk antalogi! Kamu berhasil!”
“Hah, Subhanallah. Ini kah puisiku?” Prilly menjatuhkan buku itu lalu memeluk Farida.
“Puisi ini kamu buat dengan hati kan?”
“Iya, puisi ini kutulis malam ketika aku memutuskan untuk memaafkan pak Hamzah,”
“Eh, kita lihat, apakah karya pak Hamzah juga ada di antalogi puisi ini,”
Farida dan Prilly membalik-balik halamanya. Tapi mereka tak menemukan satu pun puisi yang tertulis,”Karya Hamzah Irawan.”
“Far, karya pak Hamzah tidak ada! Aneh. Padalah selama empat tahun berturu-turut karya beliau selalu masuk,”
“Wah, artinya kamu sudah benar-benar mengalahkan beliau.”
“Aku malah merasa sebaliknya. Aku merasa tidak enak dengan beliau. Aku meras tidak rela jika puisiku masuk antalogi, tapi karya beliau tidak,” perasaan tidak nyaman langsung mempermainkan Prilly. Selama beberapa saat tidak ada suara. Sementara Farida membuka-buka kembali buku itu, dia membaca halaman pertama.
“Hmm, buku Antalogi Puisi Tingkat Provinsi tahun 2013 diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Puisi-puisi di sini adalah puisi terbaik yang dipilih oleh tim juri. Tahun ini tim juri diketuai oleh Hamzah Irawan....,” Farida menggantungkan kata-kata. Farida dan Prilly beratatapan.
“Prilly, kamu tahu apa artinya?”
“Pantas puisi pak Hamzah tak ada. Beliau adalah ketua tim juri. Dan pak Hamzah yang memilih puisiku untuk masuk antalogi ini,”
“Artinya pak Hamzah menghargaimu. Pak Hamzah pasti menyayangimu. Kamu harus mengucapkan terima kasih,” Farida berkata cepat. Prilly mengangguk.
Tapi seharian ini mereka sama sekali tidak melihat wajah pak Hamzah. Teh di mejanya di kantor tetap penuh. Tasnya pun tidak ada. Akhirnya mereka ingat, kemarin adalah hari terakhir pak Hamzah mengajar. Hari ini pak Hamzah sudah tidak di sini lagi.
Bu Sulvian, wali kelas mereka mendatangi Prilly dengan sepucuk surat.
“Kemarin pak Hamzah menitipkan surat ini untuk Prilly,”
Dengan segera Prilly membuka surat itu. Prilly dan Farida membacanya bersama-sama.
Bapak tidak pernah membenci Prilly. Justru bapak sangat bangga dengan Prilly yang sangat semangat menjadi penulis dan penyair. Bapak lakukan ini semua untuk menunjukkan pada Prilly bahwa memang untuk menjadi penulis kamu akan menemukan banyak cobaan , kekecewaan, dan kepedihan. Jika kamu sudah bersungguh-sungguh menjadi penulis, cobaan yang Prilly dapat akan jauh lebih banyak dan lebih dahsyat dari yang bapak lakukan pada Prilly. Dan ternyata Prilly memang bisa melalui cobaan yang bapak berikan. Bapak yakin Prilly bisa menghadapi cobaan yang lain dan Prilly bisa menjadi penulis besar seperti yang Prilly inginkan. Prilly adalah siswi terbaik.
Salam untuk Farida.
MEMORIMU
Karya Izzah Fatihiyah
“Itaan.. itan!!” pekik seorang
perempuan kecil yang lucu dengan intonasi amat ceria dan menggemaskan.
“Main yuk! ” sahut Ikal dari seberang toko milik ibunya.
Dengan riang dan sorak celotehan yang tak bisa dipahami oleh orang dewasa, kami terus bermain dengan canda, tawa, sambil sesekali menggelitik geli. Tertawa penuh ekspresi tanpa mengerti apa yang lucu dari berlari-lari memutari pada toko-toko yang berjejer. Begitulah kebiasaan kami untuk menuangkan satu kata yang sangat kami dan teman-teman kami gemari. bermain.
“Nad, coba liat ke cini deh! ” serunya sambil menarik ringan lenganku. Kali ini dia ambil sesuatu itu di atas telapak tangannya. Wajahnya berbinar senang sekali. Di sudut matanya ada secercah harapan sambil berekspresi polos namun tetap layaknya lelaki kecil yang lucu.
“Kenapa kamu masukin ke botol, tan?” tanyaku ingin tahu, begitulah anak kecil. Selalu ingin tahu segalanya, semuanya, sampai terkadang ayah dan ibu lelah menjawab.
“Nanti mati loh. Kacian kalo mati.” sekali lagi aku ingatkan. Aku memang anak yang cerewet dan tak bisa diam, mungkin itulah aku di mata sahabatku ini.
“Main yuk! ” sahut Ikal dari seberang toko milik ibunya.
Dengan riang dan sorak celotehan yang tak bisa dipahami oleh orang dewasa, kami terus bermain dengan canda, tawa, sambil sesekali menggelitik geli. Tertawa penuh ekspresi tanpa mengerti apa yang lucu dari berlari-lari memutari pada toko-toko yang berjejer. Begitulah kebiasaan kami untuk menuangkan satu kata yang sangat kami dan teman-teman kami gemari. bermain.
“Nad, coba liat ke cini deh! ” serunya sambil menarik ringan lenganku. Kali ini dia ambil sesuatu itu di atas telapak tangannya. Wajahnya berbinar senang sekali. Di sudut matanya ada secercah harapan sambil berekspresi polos namun tetap layaknya lelaki kecil yang lucu.
“Kenapa kamu masukin ke botol, tan?” tanyaku ingin tahu, begitulah anak kecil. Selalu ingin tahu segalanya, semuanya, sampai terkadang ayah dan ibu lelah menjawab.
“Nanti mati loh. Kacian kalo mati.” sekali lagi aku ingatkan. Aku memang anak yang cerewet dan tak bisa diam, mungkin itulah aku di mata sahabatku ini.
Ikal terus melakukannya dengan
ekspresi serius. Dan ditutuplah botol yang berisi laba-laba, seekor hewan yang
memiliki kemampuan membuat jaring-jaring tipis, dengan sedikit renggang.
“Nggak mungkin mati kok. Lagian aku nanti kalo udah becal pengen jadi spiderman yang bisa menolong banyak olang.” harapnya penuh kepolosan sambil terus menerawang sang laba-laba dalam botol.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Mendengarkan harapan yang aneh, karena aku tak pernah bertemu sebelumnya dengan spiderman yang berjuluk ‘Sang Penyelamat’. Setahuku itu hanya ada di TV yang biasa kami tonton sepulang sekolah.
“Coba kesiniin tanganmu!” Ikal meraih sebelah tanganku dan meletakkan seekor laba-laba yang kini berjalan kecil-kecil di punggung tanganku. Aku meggerutu geli dan sedikit ketakutan.
“Itan.. ambil cepet. Aku takut nih! ” pintaku ketakutan dengan memejamkan setengan bola mataku dan membukanya kembali. Laba-laba itu masih melekat di telapak tanganku.
“Jangan gelak-gelak dong! Bial dia gak jalan telus. Jangan takut, dia gak gigit kok.” bujuk Ikal. Aku pun menurutinya. Aku takut sebenarnya, takut kalo masuk ke dalam bajuku. Tapi aku percaya dengan kata-kata Ikal. Aku percaya dia karena kami bersahabat, sahabat baikku.
Ternyata benar. Setelah aku tenang, sang laba-labapun tidak lagi membuatku geli. Perlahan diambilnya dari tanganku dan dimasukkan dalam botol. Sang laba-laba tetap berjalan ke permukaan botol dan kembali ke dasar botol, begitu seterusnya. Dia masih terlihat gembira meski dalam botol hanyalah ada dirinya seekor.
Kami pun kembali belari-lari mengitari tanah lapang beraspal tanpa rumput. Aku berputar gembira entah karena apa. Mungkin karena hari ini aku mendapat pelajaran baru tentang kebenaniaan dan satu lagi, aku tahu impian Ikal yang mungkin konyol di mata kita. ~~~
Dari tadi aku cerewet ya? (banget..) Kenalin aku Nadisa, anak paling gak tahan kalau semenit aja nggak ngomong. Aku anak yang rajin karena keterpaksaan. Kakak ku lah yang membentukku menjadi anak rajin. Tapi aku tetap layaknya anak kecil lebih suka bermain dari pada belajar. Bermain dengan sahabat tergantengku. Ganteng, karena cuma dia satu-satunya teman cowokku. Haikal namanya. Kami disatukan sejak umur 3 tahun. Bunda kami saling berteman, keduanya punya kegiatan yang sama, keduanya sama-sama memiliki 2 anak. Mungkin kita diciptakan dengan banyak kesamaan, juga dengan keluarga kami. Hidup itu menyenangkan sekali ternyata. Apalagi saat awal kami mengenal sekolah. Hari-hari di sekolah itu asyik.
“Bajumu kekecilan ya?” tanyaku nada mengejek. Yang sebenarnya bajunya sangat kebesaran.
“Ini seragam namanya, bukan baju!” jawabnya membelot. Mencoba memungkiri baju kebesarannya. Tubuh Ikal ringkuh, terlalu baik untuk mengatakan kurus. Bahkan kulitnya seperti menempel di tulang, miriskan? Memang. Tapi jangan salah parasnya seperti cowok lain, ganteng.
“Kenapa keluar lagi? ” tanyaku melihat Ikal keluar kelas. Ia tak menjawab.
Kuperhatikan sekeliling kelas yang berisi meja dan kursi yang ditata melingkar oleh ibu guru kami. Sepertinya aku tau apa yang membuatnya pergi.
“Masuk lagi kal, tasnya Wildan udah aku pindah kok. Ayo!” bujukku sambil menarik tangannya untuk berdiri.
Begitulah kami, selalu duduk bersebelahan tiap hari. Ikal akan ngambek jika ada sebuah tas tergeletak di sampingku. Aku juga tak mengerti mengapa kita sangat dekat.
Lambat laun kita menjelma seperti magnet yang berkutub sama. Lingkungan lah yang membuat kita mengerti bahwa tak selamanya laki-laki dan perempuan boleh berteman sangat dekat.
Aku berhijrah ke kota untuk mengukuhkan ilmuku di salah satu sekolah berasrama. Sedikit demi sedikit memori masa kecilku mulai kuabaikan. Dengan teman baruku yang super seru.
Semuanya hilang. Waktu itu, masa yang dulu, sesosok itu aku pun seperti tak pernah melewatkannya. Nadisa yang seperti saat inilah yang sangat kubenci. Tak akan boleh ku ulangi kesalahan ini.
“ Nad..” panggil seseorang dari belakangku membuyarkan aku yang sedang membereskan tas di toko ibuku.
“Minnal aidzin ya. Kosong-kosong ok?” lanjutnya saat aku setengah putar badan menghadapnya.
“Oh, he em iya. Sama-sama .” jawabku sangat kaku dan serasa jadi orang kikuk sedunia.
Diapun membentuk senyum di sudut pipinya seraya berjalan meninggalkanku. Yah! Ikal jauh berbeda dari Itan yang dulu kukenal. Dia jauh lebih tinggi dari aku bahkan dari teman-temannya. Tapi perutnya masih saja kurus. Memori itu kembali padaku.
Di hari yang suci itu membuatku menyesal mengapa bukan aku yang mengucapkan maaf untuknya. Namun justru dia. Ikal.
Memulai masa-masa yang ditunggu oleh anak remaja ternyata cukup membuatku kerepotan sekaligus menyenangkan. Kerepotan untuk beradaptasi dengan dunia remaja dengan warna warni fantasinya. Namun semua terasa menyenagkan karena kini aku bisa tumbuh dewasa dengan segala nikmat sehat oleh-Nya. Tidak sepertinya.
“ Mbak, masuk aja.. ngobrol di dalam” kata seorang laki-laki jangkung mengingatkan udara di balkon rumah sakit yang mulai panas.
“Assalamu’alaikum..” ucapku seraya masuk dalam kamar 305.
Kupandangi seisi ruangan yang lebih dari 5 orang teman yang menjenguknya. Dia pantas mendapat semua ini. Dia pantas disayang orang, diperhatikan orang yang menyayangi kebaikannnya.
“Apa kabar kamu? Maaf ya baru bisa kesini sekarang.”tanyaku penuh rasa bersalah.
“Kalau kamu tanya kabarku, aku hanya bisa jawab aku sedang dikasih Allah secuil rasa sayang-Nya buat aku. Nggak apa-apa, kamu pasti sibuk sekolah ya?” jawabnya ringan seperti menahan pucat yang menyimpan rasa sakit.
“Aku kemarin ke sekolahmu loh.” sambungnya beberapa saat kemudian.
Dia sangat terobsessi untuk masuk SMA sekarang aku berada. Sayang nasib tak berpihak padanya. Kami tak kembali disatukan di SMA yang sama.
“Temannya SMP ya?” tanya seorang teman laki-lakinya tiba-tiba.
“Bukan! Mbak ini dulu adalah teman masa kecil Ikal. Katanya kalau mbaknya gak masuk sekolah karena sakit, Ikalpun juga membelot tak masuk sekolah. Ya kan mbak?”sahut gadis berparas manis dari belakangku.
“Iya, begitulah. Konyol ya?” celetukku asal-asalan.
“Nggak konyol kok. Itulah arti kata sahabat. Sahabat emang harus seperti itu.” Jawab Ikal dengan wajah sok bijaknya yang diiringi gelak tawa seisi ruangan.
Mulai saat itulah aku menyadari. Menyadari jika aku bukanlah sahabat yang baik untukmu. Menyadari betapa jahatnya aku yang dengan mudahnya melupakan persahabatan itu. Saat kau berupaya membuka memori masa lalu tentang kita pada teman-temanmu. Terima kasih telah melibatkanku dalam ceritamu bersama teman-teman yang kamu miliki.
“Nggak mungkin mati kok. Lagian aku nanti kalo udah becal pengen jadi spiderman yang bisa menolong banyak olang.” harapnya penuh kepolosan sambil terus menerawang sang laba-laba dalam botol.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Mendengarkan harapan yang aneh, karena aku tak pernah bertemu sebelumnya dengan spiderman yang berjuluk ‘Sang Penyelamat’. Setahuku itu hanya ada di TV yang biasa kami tonton sepulang sekolah.
“Coba kesiniin tanganmu!” Ikal meraih sebelah tanganku dan meletakkan seekor laba-laba yang kini berjalan kecil-kecil di punggung tanganku. Aku meggerutu geli dan sedikit ketakutan.
“Itan.. ambil cepet. Aku takut nih! ” pintaku ketakutan dengan memejamkan setengan bola mataku dan membukanya kembali. Laba-laba itu masih melekat di telapak tanganku.
“Jangan gelak-gelak dong! Bial dia gak jalan telus. Jangan takut, dia gak gigit kok.” bujuk Ikal. Aku pun menurutinya. Aku takut sebenarnya, takut kalo masuk ke dalam bajuku. Tapi aku percaya dengan kata-kata Ikal. Aku percaya dia karena kami bersahabat, sahabat baikku.
Ternyata benar. Setelah aku tenang, sang laba-labapun tidak lagi membuatku geli. Perlahan diambilnya dari tanganku dan dimasukkan dalam botol. Sang laba-laba tetap berjalan ke permukaan botol dan kembali ke dasar botol, begitu seterusnya. Dia masih terlihat gembira meski dalam botol hanyalah ada dirinya seekor.
Kami pun kembali belari-lari mengitari tanah lapang beraspal tanpa rumput. Aku berputar gembira entah karena apa. Mungkin karena hari ini aku mendapat pelajaran baru tentang kebenaniaan dan satu lagi, aku tahu impian Ikal yang mungkin konyol di mata kita. ~~~
Dari tadi aku cerewet ya? (banget..) Kenalin aku Nadisa, anak paling gak tahan kalau semenit aja nggak ngomong. Aku anak yang rajin karena keterpaksaan. Kakak ku lah yang membentukku menjadi anak rajin. Tapi aku tetap layaknya anak kecil lebih suka bermain dari pada belajar. Bermain dengan sahabat tergantengku. Ganteng, karena cuma dia satu-satunya teman cowokku. Haikal namanya. Kami disatukan sejak umur 3 tahun. Bunda kami saling berteman, keduanya punya kegiatan yang sama, keduanya sama-sama memiliki 2 anak. Mungkin kita diciptakan dengan banyak kesamaan, juga dengan keluarga kami. Hidup itu menyenangkan sekali ternyata. Apalagi saat awal kami mengenal sekolah. Hari-hari di sekolah itu asyik.
“Bajumu kekecilan ya?” tanyaku nada mengejek. Yang sebenarnya bajunya sangat kebesaran.
“Ini seragam namanya, bukan baju!” jawabnya membelot. Mencoba memungkiri baju kebesarannya. Tubuh Ikal ringkuh, terlalu baik untuk mengatakan kurus. Bahkan kulitnya seperti menempel di tulang, miriskan? Memang. Tapi jangan salah parasnya seperti cowok lain, ganteng.
“Kenapa keluar lagi? ” tanyaku melihat Ikal keluar kelas. Ia tak menjawab.
Kuperhatikan sekeliling kelas yang berisi meja dan kursi yang ditata melingkar oleh ibu guru kami. Sepertinya aku tau apa yang membuatnya pergi.
“Masuk lagi kal, tasnya Wildan udah aku pindah kok. Ayo!” bujukku sambil menarik tangannya untuk berdiri.
Begitulah kami, selalu duduk bersebelahan tiap hari. Ikal akan ngambek jika ada sebuah tas tergeletak di sampingku. Aku juga tak mengerti mengapa kita sangat dekat.
Lambat laun kita menjelma seperti magnet yang berkutub sama. Lingkungan lah yang membuat kita mengerti bahwa tak selamanya laki-laki dan perempuan boleh berteman sangat dekat.
Aku berhijrah ke kota untuk mengukuhkan ilmuku di salah satu sekolah berasrama. Sedikit demi sedikit memori masa kecilku mulai kuabaikan. Dengan teman baruku yang super seru.
Semuanya hilang. Waktu itu, masa yang dulu, sesosok itu aku pun seperti tak pernah melewatkannya. Nadisa yang seperti saat inilah yang sangat kubenci. Tak akan boleh ku ulangi kesalahan ini.
“ Nad..” panggil seseorang dari belakangku membuyarkan aku yang sedang membereskan tas di toko ibuku.
“Minnal aidzin ya. Kosong-kosong ok?” lanjutnya saat aku setengah putar badan menghadapnya.
“Oh, he em iya. Sama-sama .” jawabku sangat kaku dan serasa jadi orang kikuk sedunia.
Diapun membentuk senyum di sudut pipinya seraya berjalan meninggalkanku. Yah! Ikal jauh berbeda dari Itan yang dulu kukenal. Dia jauh lebih tinggi dari aku bahkan dari teman-temannya. Tapi perutnya masih saja kurus. Memori itu kembali padaku.
Di hari yang suci itu membuatku menyesal mengapa bukan aku yang mengucapkan maaf untuknya. Namun justru dia. Ikal.
Memulai masa-masa yang ditunggu oleh anak remaja ternyata cukup membuatku kerepotan sekaligus menyenangkan. Kerepotan untuk beradaptasi dengan dunia remaja dengan warna warni fantasinya. Namun semua terasa menyenagkan karena kini aku bisa tumbuh dewasa dengan segala nikmat sehat oleh-Nya. Tidak sepertinya.
“ Mbak, masuk aja.. ngobrol di dalam” kata seorang laki-laki jangkung mengingatkan udara di balkon rumah sakit yang mulai panas.
“Assalamu’alaikum..” ucapku seraya masuk dalam kamar 305.
Kupandangi seisi ruangan yang lebih dari 5 orang teman yang menjenguknya. Dia pantas mendapat semua ini. Dia pantas disayang orang, diperhatikan orang yang menyayangi kebaikannnya.
“Apa kabar kamu? Maaf ya baru bisa kesini sekarang.”tanyaku penuh rasa bersalah.
“Kalau kamu tanya kabarku, aku hanya bisa jawab aku sedang dikasih Allah secuil rasa sayang-Nya buat aku. Nggak apa-apa, kamu pasti sibuk sekolah ya?” jawabnya ringan seperti menahan pucat yang menyimpan rasa sakit.
“Aku kemarin ke sekolahmu loh.” sambungnya beberapa saat kemudian.
Dia sangat terobsessi untuk masuk SMA sekarang aku berada. Sayang nasib tak berpihak padanya. Kami tak kembali disatukan di SMA yang sama.
“Temannya SMP ya?” tanya seorang teman laki-lakinya tiba-tiba.
“Bukan! Mbak ini dulu adalah teman masa kecil Ikal. Katanya kalau mbaknya gak masuk sekolah karena sakit, Ikalpun juga membelot tak masuk sekolah. Ya kan mbak?”sahut gadis berparas manis dari belakangku.
“Iya, begitulah. Konyol ya?” celetukku asal-asalan.
“Nggak konyol kok. Itulah arti kata sahabat. Sahabat emang harus seperti itu.” Jawab Ikal dengan wajah sok bijaknya yang diiringi gelak tawa seisi ruangan.
Mulai saat itulah aku menyadari. Menyadari jika aku bukanlah sahabat yang baik untukmu. Menyadari betapa jahatnya aku yang dengan mudahnya melupakan persahabatan itu. Saat kau berupaya membuka memori masa lalu tentang kita pada teman-temanmu. Terima kasih telah melibatkanku dalam ceritamu bersama teman-teman yang kamu miliki.
2.Contoh
Teks Pantun
Apa gunanya kita bergalah
Perahu digalah tak mau laju
Apa gunyanya kita bersekolah
Diajar guru tak mau tahu
Perahu digalah tak mau laju
Apa gunyanya kita bersekolah
Diajar guru tak mau tahu
Kelapa
muda dipasar batu
Dibawa
orang dari kuala
Masa muda
giat berguru
Supaya
senang dihari tua
Kapal dihulu dipelabuhan
Kapal
kepunyaan orang cina
Sesal
dahulu pendapatan
Sesal
kemudian tidak berguna
3.Contoh Teks Cerita Ulang
Cerita Ulang Biografi Basuki Tjahaja Purnama (AHOK)
|
Orientasi
|
Basuki
Tjahaja Purnama atau yang akrab dengan nama Ahok adalah politikus asal
Belitung. Dia menjadi pasangan Jokowi dalam Pemilu Gubernur DKI Jakarta 2012.
Pada pemilu tahun 2012, Jokowi dan Ahok terpilih menjadi gubernur dan wakil
gubernur Jakarta. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Bupati Belitung Timur
menggantikan Usman Saleh.
Ahok
lahir di Belitung pada tanggal 29 Juni 1966. Dia adalah anak pertama dari
pasangan Indra Tjahaja Purnama dan Buniarti Ningsing yang merupakan keturunan
Tionghoa-Indonesia. Bersama dengan ketiga adiknya, Ahok menghabiskan masa
kecilnya di Desa gantung, Belitung Timur, hingga tamat sekolah menengah
pertama. Setelah itu, Ahok hijrah ke Jakarta untuk meneruskan pendidikannya.
|
|
Urutan peristiwa
kehidupan tokoh
Tahap 1
|
Di
Jakarta, Ahok menimba Ilmu di Universitas Trisakti dengan mengambil Jurusan
Teknik Geologi di Fakultas Teknik Mineral. Setelah lulus dan mendapatkan
gelar Insinyur Geologi, pada tahun 1989 Ahok kembali ke Belitung dan
mendirikan CV Panda yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan PT Timah.
|
|
Urutan peristiwa
kehidupan tokoh
Tahap 2
|
Dua
tahun kemudian, Ahok melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya
Mulya. Setelah mendapatkan gelar MAgister Manajemen, dia kemudian bernaung di
bawah PT Simaxindo Primadaya dengan menjabat sebagai staf direksi bidang
analisa biaya dan keuangan proyek.
|
|
Urutan peristiwa
kehidupan tokoh
Tahap 3
|
Dengan
mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan pengalamannya bekerja, Ahok mendirikan
PT Nurindra Ekapersada, yang merupakan awal perjalanan dari Gravel Pack Sand
(GPS). Setelah berhenti bekerja untuk PT Simaxindo, Ahok mendirikan pabrik
pengolahan asir kuarsa pertama di Belitung, yang berlokasi di Dusun Burung
Mandi. Perusahaan tersebut dia dirikan dengan mengadopsi dan mengadaptasi
teknologi Amerika Serikat dan Jerman. Bersama dengan berkembangnya pabrik
tersebut, kawasan industri dan pelabuhan samudra berkembang. Kawasan tersebut
sekarang dikenal dengan nama Kawasan Industri Air Kelik (KIAK).
|
|
Urutan peristiwa
kehidupan tokoh
Tahap 4
|
Kemudian,
pada tahun 2004, Ahok berhasil meyakinkan seorang investor Korea untuk membangun
Tin Smelter atau peleburan bijih timah di KIAK.
|
|
Urutan peristiwa
kehidupan tokoh
Tahap 5
|
Pada
tahun itu juga, Ahok mulai bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru
(Partai PIB), dan ditunjuk sebagai ketua DPC PIB Kabupaten Belitung. Pada Pemilu
2004, dia terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Belitung hingga tahun 2009.
|
|
Urutan peristiwa
kehidupan tokoh
Tahap 6
|
Satu
tahun kemudian, setelah mengantongi 37% lebih suara rakyat, Ahok menjabat
sebagai Bupati Belitung Timur. Dalam pemerintahannya, Ahok membebaskan biaya
kesehatan kepada seluruh warga tanpa kecuali. Namun, pada 22 Desember 2006,
Ahok resmi mengundurkan diri dari pemerintahan dan menyerahkan jabatan
tersebut kepada wakilnya, Khairul Effendi.
|
|
Urutan peristiwa
kehidupan tokoh
Tahap 7
|
Pada
tahun 2007, Ahok mencalonkan diri untuk menjadi Gubernur Bangka Belitung.
Pada saat itu, dia mendapatkan dukungan penuh dari Abdurrahman Wahid. Namun,
dia kalah dengan Eko Maulana Ali. Tahun ini juga, Ahok mendapatkan
penghargaan sebagai Tokoh Anti Korupsi. program pelayanan kesehatan dan
pendidikan gratis bagi Belitung Timur juga berhasil mengantarkan Ahok untuk
meraih penghargaan tersebut.
|
|
Urutan peristiwa
kehidupan tokoh
Tahap 8
|
Kemudian,
pada tahun 2008, Ahok meluncurkan sebuah buku berjudul "Merubah
Indonesia". Ahok adalah seorang ayah dari Nicholas, Natania, dan Daud
Albeenner, dan seorang suami bagi seorang wanita asal Medan, Veronica.
|
|
Reorientasi
|
Sebagai
wakil gubernur DKI, Ahok Ahok juga sudah mempunyai rencana akan membenahi
sistem transportasi dengan memperbanyak jumlah busway sampai seribu unit yang
diperuntukkan khusus bagi orang cacat, anak-anak dan perempuan. Bahkan
monorel serta kereta gratis yang menghubungkan Blok M sampai Monas juga akan
diadakan. Meski menjadi orang nomor dua di ibukota dia tetap tampil
sederhana. Ahok mengaku tidak pernah pusing memikirkan pakaian dan sepatu
yang dipakainya hanya itu-itu saja setiap waktu.
|
Walter Elias Disney lahir pada tanggal 5 Desember 1901 di Hermosa,
Chicago, Illinois. Ayahnya bernama Elias Disney dan ibunya Flora Call. Keluarga
Disney berkali-kali pindah tempat tinggal mengigat Elias yang memiliki
pekerjaan sebagai petani dan peternak dan akhirnya menetap di Marceline. Di
sini Disney mulai mengembangkan minatnya terhadap seni terutama seni lukis. Setelah
empat tahun kemudian keluarga Elias Disney pindah ke Kansas City. Walt Disney
kemudian masuk ke Benton Grammar School bersama Ruth adiknya.
Disney melanjutkan studi di McKinley High Scool saat keluarganya kembali ke Chicago. Di sekolahnya Disney menjadi seorang kartunis untuk koran sekolahnya. Pada usia 16 tahun Disney dikeluarkan dari sekolahnya lalu mencoba bergabung dengan Angkatan Bersenjata AS, tetapi karena alasan tidak cukup umur ia ditolak untuk bergabung. Akhirnya ia bergabung dengan Palang Merah dan menjadi supir ambulans. Kemudian pada tahun 1919 ia kembali ke Kansas City dan mencari peruntungan menjadi pelukis karikatur. Ia kemudian bekerja sebagai pembuat iklan, surat kabar, dan majalah di Pesmen-Rubin.
Pada awal 1920 ia bersama rekannya Ubbe Iwerks mendirikan perusahaan bernama "Iwerk-Disney Commercial Artist", namun perusahaan ini tak bertahan lama. Ia kemudian beralih menjadi pekerja di bidang cutout animation di Ad Company. Setelah itu dorongan untuk membentuk perusahaan sendiri muncul kembali, berhasil memukau Kansas City dengan kartun "Laugh-O-Grams". Beberapa usaha yang didirikan Walt antara lain dengan membangun studio sendiri di Hollywoo, kemudian membentuk Disney Brother's Studio bersama Iwerks.
Pada tahun 1925 ia menikah dengan Lillian Bounds yang merupakan salah satu pekerjanya. Lillian melahirkan seorang anak perempuan yang bernama Diane Marie Disney pada tanggal 18 Desember 1933. Keluarga Disney juga mengadopsi Sharon Mae Disney Akhirnya pada 1928 Disney memperundingkan kenaikan bayaran, yang menyebabkan banyak pekerjanya yang meninggalkannya kecuali Ikwers.
Kartun yang pertama dibuatnya dengan Iwerks yaitu Miki Mouse merupakan kartun bisu. Disney terus mengembangkan usahanya hingga animasi yang paling populer Disney yang berjudul Snow White and the Seven Dwarfs pada 21 Desember 1937 yang ditayangkan di Carthay Circle Theater yang meraih sukses. Kesuksesan ini merupakan zaman keemasan bagi Disney. Selanjutnya animasi-animasi lain seperti Donal Duck, Miki Mouse, dan banyak lagi produksi animasi Disney yang populer namun tak sepopuler Snow White.
Cinderella yang digarap setelah Perang Dunia II kemudian menjadi salah satu animasi populer Disney selanjutnya namun tidak mengalahkan kepopuleran Snow White. Bisnisnya kemudian beralih ke pembuatan taman bermain anak yang berjudul Disneyland. Disneyland dibuka secara resmi pada 17 Juli 1955. Dalam rentan satu dekade setelah perang dunia Walt Disney Production meraih berbagai penghargaan dengan berbagai anmasi-animasi garapan mereka.
Disney yang ternyata mengidap tumor di paru-paru kirinya meregang nyawa pada 15 Desember 1966. Tepat sepuluh hari setelah ulang tahunnya yang ke-65. Setelah kepergian Walt Disney, Roy Disney menguasai sepenuhnya Walt Disney Productions dan WED Enterprises.
Disney melanjutkan studi di McKinley High Scool saat keluarganya kembali ke Chicago. Di sekolahnya Disney menjadi seorang kartunis untuk koran sekolahnya. Pada usia 16 tahun Disney dikeluarkan dari sekolahnya lalu mencoba bergabung dengan Angkatan Bersenjata AS, tetapi karena alasan tidak cukup umur ia ditolak untuk bergabung. Akhirnya ia bergabung dengan Palang Merah dan menjadi supir ambulans. Kemudian pada tahun 1919 ia kembali ke Kansas City dan mencari peruntungan menjadi pelukis karikatur. Ia kemudian bekerja sebagai pembuat iklan, surat kabar, dan majalah di Pesmen-Rubin.
Pada awal 1920 ia bersama rekannya Ubbe Iwerks mendirikan perusahaan bernama "Iwerk-Disney Commercial Artist", namun perusahaan ini tak bertahan lama. Ia kemudian beralih menjadi pekerja di bidang cutout animation di Ad Company. Setelah itu dorongan untuk membentuk perusahaan sendiri muncul kembali, berhasil memukau Kansas City dengan kartun "Laugh-O-Grams". Beberapa usaha yang didirikan Walt antara lain dengan membangun studio sendiri di Hollywoo, kemudian membentuk Disney Brother's Studio bersama Iwerks.
Pada tahun 1925 ia menikah dengan Lillian Bounds yang merupakan salah satu pekerjanya. Lillian melahirkan seorang anak perempuan yang bernama Diane Marie Disney pada tanggal 18 Desember 1933. Keluarga Disney juga mengadopsi Sharon Mae Disney Akhirnya pada 1928 Disney memperundingkan kenaikan bayaran, yang menyebabkan banyak pekerjanya yang meninggalkannya kecuali Ikwers.
Kartun yang pertama dibuatnya dengan Iwerks yaitu Miki Mouse merupakan kartun bisu. Disney terus mengembangkan usahanya hingga animasi yang paling populer Disney yang berjudul Snow White and the Seven Dwarfs pada 21 Desember 1937 yang ditayangkan di Carthay Circle Theater yang meraih sukses. Kesuksesan ini merupakan zaman keemasan bagi Disney. Selanjutnya animasi-animasi lain seperti Donal Duck, Miki Mouse, dan banyak lagi produksi animasi Disney yang populer namun tak sepopuler Snow White.
Cinderella yang digarap setelah Perang Dunia II kemudian menjadi salah satu animasi populer Disney selanjutnya namun tidak mengalahkan kepopuleran Snow White. Bisnisnya kemudian beralih ke pembuatan taman bermain anak yang berjudul Disneyland. Disneyland dibuka secara resmi pada 17 Juli 1955. Dalam rentan satu dekade setelah perang dunia Walt Disney Production meraih berbagai penghargaan dengan berbagai anmasi-animasi garapan mereka.
Disney yang ternyata mengidap tumor di paru-paru kirinya meregang nyawa pada 15 Desember 1966. Tepat sepuluh hari setelah ulang tahunnya yang ke-65. Setelah kepergian Walt Disney, Roy Disney menguasai sepenuhnya Walt Disney Productions dan WED Enterprises.
Biografi singkat Susilo Bambang Yudhoyono
Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden RI ke-6. Berbeda
dengan presiden sebelumnya, beliau merupakan presiden pertama yang dipilih
secara langsung oleh rakyat dalam proses Pemilu Presiden putaran II 20
September 2004. Lulusan terbaik AKABRI (1973) yang akrab disapa SBY ini lahir
di Pacitan, Jawa Timur 9 September 1949. Istrinya bernama Kristiani Herawati,
merupakan putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo.
Pensiunan
jenderal berbintang empat ini adalah anak tunggal dari pasangan R. Soekotjo dan
Sitti Habibah. Darah prajurit menurun dari ayahnya yang pensiun sebagai Letnan
Satu. Sementara ibunya, Sitti Habibah, putri salah seorang pendiri Ponpes
Tremas. Beliau dikaruniai dua orang putra yakni Agus Harimurti Yudhoyono
(mengikuti dan menyamai jejak dan prestasi SBY, lulus dari Akmil tahun 2000
dengan meraih penghargaan Bintang Adhi Makayasa) dan Edhie Baskoro Yudhoyono
(lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara, Magelang yang kemudian menekuni ilmu
ekonomi).
Pendidikan SR adalah pijakan masa depan paling
menentukan dalam diri SBY. Ketika duduk di bangku kelas lima, beliau untuk
pertamakali kenal dan akrab dengan nama Akademi Militer Nasional (AMN),
Magelang, Jawa Tengah. Di kemudian hari AMN berubah nama menjadi Akabri. SBY
masuk SMP Negeri Pacitan, terletak di selatan alun-alun. Ini adalah sekolah idola
bagi anak-anak Kota Pacitan. Mewarisi sikap ayahnya yang berdisiplin keras, SBY
berjuang untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya menjadi tentara dengan masuk
Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) setelah lulus SMA akhir
tahun 1968. Namun, lantaran terlambat mendaftar, SBY tidak langsung masuk
Akabri. Maka SBY pun sempat menjadi mahasiswa Teknik Mesin Institut 10 November
Surabaya (ITS).
Namun kemudian, SBY justru memilih masuk Pendidikan
Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) di Malang, Jawa Timur. Sewaktu belajar di
PGSLP Malang itu, beliau mempersiapkan diri untuk masuk Akabri. Tahun 1970,
akhirnya masuk Akabri di Magelang, Jawa Tengah, setelah lulus ujian penerimaan
akhir di Bandung. SBY satu angkatan dengan Agus Wirahadikusumah, Ryamizard
Ryacudu, dan Prabowo Subianto. Semasa pendidikan, SBY yang mendapat julukan
Jerapah, sangat menonjol. Terbukti, belaiu meraih predikat lulusan terbaik
Akabri 1973 dengan menerima penghargaan lencana Adhi Makasaya.
Pendidikan militernya dilanjutkan di Airborne and
Ranger Course di Fort Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced
Course di Fort Benning, Georgia, AS (1982-1983) dengan meraih honor graduate,
Jungle Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank Weapon Course di Belgia dan
Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985), Seskoad di Bandung
(1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas,
AS (1990-1991). Gelar MA diperoleh dari Webster University AS. Perjalanan
karier militernya, dimulai dengan memangku jabatan sebagai Dan Tonpan Yonif
Linud 330 Kostrad (Komandan Peleton III di Kompi Senapan A, Batalyon Infantri
Lintas Udara 330/Tri Dharma, Kostrad) tahun 1974-1976, membawahi langsung
sekitar 30 prajurit.
Batalyon Linud 330 merupakan salah satu dari tiga
batalyon di Brigade Infantri Lintas Udara 17 Kujang I/Kostrad, yang memiliki
nama harum dalam berbagai operasi militer. Ketiga batalyon itu ialah Batalyon
Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Batalyon Infantri Lintas Udara
328/Dirgahayu, dan Batalyon Infantri Lintas Udara 305/Tengkorak. Kefasihan
berbahasa Inggris, membuatnya terpilih mengikuti pendidikan lintas udara
(airborne) dan pendidikan pasukan komando (ranger) di Pusat Pendidikan Angkatan
Darat Amerika Serikat, Ford Benning, Georgia, 1975. Kemudian sekembali ke tanah
air, SBY memangku jabatan Komandan Peleton II Kompi A Batalyon Linud
305/Tengkorak (Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad) tahun 1976-1977. Beliau pun
memimpin Pleton ini bertempur di Timor Timur.
Sepulang dari Timor Timur, SBY menjadi Komandan
Peleton Mortir 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977). Setelah itu, beliau
ditempatkan sebagai Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978),
Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981), dan Paban Muda Sops SUAD
(1981-1982). Ketika bertugas di Mabes TNI-AD, itu SBY kembali mendapat
kesempatan sekolah ke Amerika Serikat. Dari tahun 1982 hingga 1983, beliau
mengikuti Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
sekaligus praktek kerja-On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort
Bragg, AS, 1983. Kemudian mengikuti Jungle Warfare School, Panama, 1983 dan
Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984, serta Kursus Komando
Batalyon, 1985. Pada saat bersamaan SBY menjabat Komandan Sekolah Pelatih
Infanteri (1983-1985)
Lalu beliau dipercaya menjabat Dan Yonif 744 Dam
IX/Udayana (1986-1988) dan Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988), sebelum
mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando TNI-AD (Seskoad) di Bandung
dan keluar sebagai lulusan terbaik Seskoad 1989. SBY pun sempat menjadi Dosen
Seskoad (1989-1992), dan ditempatkan di Dinas Penerangan TNI-AD (Dispenad)
dengan tugas antara lain membuat naskah pidato KSAD Jenderal Edi Sudradjat.
Lalu ketika Edi Sudradjat menjabat Panglima ABRI, beliau ditarik ke Mabes ABRI
untuk menjadi Koordinator Staf Pribadi (Korspri) Pangab Jenderal Edi Sudradjat
(1993).
Lalu, beliau kembali bertugas di satuan tempur,
diangkat menjadi Komandan Brigade Infantri Lintas Udara (Dan Brigif Linud) 17
Kujang I/Kostrad (1993-1994) bersama dengan Letkol Riyamizard Ryacudu. Kemudian
menjabat Asops Kodam Jaya (1994-1995) dan Danrem 072/Pamungkas Kodam
IV/Diponegoro (1995). Tak lama kemudian, SBY dipercaya bertugas ke Bosnia
Herzegovina untuk menjadi perwira PBB (1995). Beliau menjabat sebagai Kepala
Pengamat Militer PBB (Chief Military Observer United Nation Protection Force)
yang bertugas mengawasi genjatan senjata di bekas negara Yugoslavia berdasarkan
kesepakatan Dayton, AS antara Serbia, Kroasia dan Bosnia Herzegovina. Setelah
kembali dari Bosnia, beliau diangkat menjadi Kepala Staf Kodam Jaya (1996).
Kemudian menjabat Pangdam II/Sriwijaya (1996-1997) sekaligus Ketua
Bakorstanasda dan Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998) sebelum
menjabat Kepala Staf Teritorial (Kaster) ABRI (1998-1999).
Sementara, langkah karir politiknya dimulai tanggal 27
Januari 2000, saat memutuskan untuk pensiun lebih dini dari militer ketika
dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada pemerintahan
Presiden KH Abdurrahman Wahid. Tak lama kemudian, SBY pun terpaksa meninggalkan
posisinya sebagai Mentamben karena Gus Dur memintanya menjabat Menkopolsoskam.
Pada tanggal 10 Agustus 2001, Presiden Megawati mempercayai dan melantiknya
menjadi Menko Polkam Kabinet Gotong-Royong. Tetapi pada 11 Maret 2004, beliau
memilih mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam. Langkah pengunduran diri
ini membuatnya lebih leluasa menjalankan hak politik yang akan mengantarkannya
ke kursi puncak kepemimpinan nasional. Dan akhirnya, pada pemilu Presiden
langsung putaran kedua 20 September 2004, SBY yang berpasangan dengan Jusuf
Kalla meraih kepercayaan mayoritas rakyat Indonesia dengan perolehan suara di
attas 60 persen. Dan pada tanggal 20 Oktober 2004 beliau dilantik menjadi
Presiden RI ke-6.
4.Contoh Teks Eksplanasi
Tentang Ritual Sesajan Dalam Ilmu Sosial Dan
Budaya.
Dalam tradisi orang ritual-ritual/sesajen
adat yang sakral dan cukup menelan biaya yang cukup tinggi ritual penyucian
arwah di laut. Hal ini menjadi sebuah adat dan budaya harus tetap dilestarikan
dalam budaya.Kematian bagi masyarakat adat atau yang masih menganut aliran
kepercayaan di pulau adalah sebuah proses menuju dunia keabadian. Bagi mereka
jika sesorang meninggal dunia maka masih ada sejumlah proses ritual/sesajen
yang harus dilakukan oleh keluarga yang masih hidup. Untuk itu maka setiap
orang yang meninggal dunia dipercayakan rohnya akan melenggang ke nirwana atau
surga apabila telah dilakukan penyucian arwah atau bagi orang yang telah
meninggal tersebut. Untuk melakukan ritual/sesajen ini maka dibutuhkan dana
yang cukup lumayan karena akan membunuh korban sembelihan mulai dari ternak
kecil hingga ternak besar, tergantung dari dari strata sosial sesorang.
Untuk mengenal lebih dekat
ritual/sesajen penyucian arwah atau harus mengikutinya selama tiga hari
berturut turut dalam melakukan ritual/sesajen. Ritual penyucian arwah harus
dilakukan pada bulan tertentu sesuai dengan kalender adat dan perputaran bulan.
Dilakukan pada hari ke enam setelah buan purnama pada bulan kedelapan tahun
masehi setiap tahunnya.salah satu tokoh masyarakat dan pelaku adat setempat
mengatatakan, orang yang meninggal dalam sebuah kampung adat tertentu yang
diikat oleh kekerabatab dan hirarki suku akan melakukan ritual penyucian arwah
secara serentak.
Ritual ini akan dilakukan atas kesepakatan semua keluarga dari setiap orang yang meninggal dunia karena ini menyangkut dengan dana yang besar yang akan dihabiskan. Ritual ini tidak dilakukan setiap tahun. Bisa lima tahun sekali atau lebih sehingga jika ritualnya sudah dilakukan ada puluhan orang mati yang arwahnya akan disucikan.
Ritual ini akan dilakukan atas kesepakatan semua keluarga dari setiap orang yang meninggal dunia karena ini menyangkut dengan dana yang besar yang akan dihabiskan. Ritual ini tidak dilakukan setiap tahun. Bisa lima tahun sekali atau lebih sehingga jika ritualnya sudah dilakukan ada puluhan orang mati yang arwahnya akan disucikan.
Ritual akan dilakukan selama tega hari
berturt-turut. Pada hari pertama adalah hari dimana semua keluarga dari orang
yang meninggal akan berkumpul. Disini semua kerabat serta orang yang berasal
dari kampung tersebut akan berkumpul dengan membawa masing masing ternak dan
makanan berupa besar atau kacang hijau. Kaum perempuan bertanggungjawab untuk
mengumpulkan makanan berupa beras sementara para lelakinya bertanggungjawab
mengumpulkan ternak. Setelah semuanya berkumpul maka pada hari kedua akan
dilakukan ritual penyucian bagi setiap orang yang telah meninggal.agar yang
telah meninggal tidak boleh lagi mengganggu keluarga yang masih hidup karena
mereka akan disucikan jalanya menuju nirwana. Setelah itu maka para lelaki
telah menyiapakan seoekor domba putih dipintu luar kampung sevbelah barat untuk
dipotong menjadi dua. “domba putih yang dipotong menjadi dua ini adalah
lambang persembahan.
Pengangguran
Pengangguran adalah salah satu fenomena sosial yang
berhubungan dengan aspek ketenagakerjaan sudah menjadi permasalahan di
masyarakat. Seperti sebuah penyakit, yang secara kronik akan menyerang sisi
kehidupan dalam bermasyarakat. Telah banyak formula dalam penanganan yang telah
diambil, namun dalam permasalahan ini tidak juga tuntas. Tidak hanya di
Indonesia, masalah pengangguran ini sudah ditemukan hampir di semua negara.
Setiap pemerintahan yang ada didunia, telah menjadikan masalah pengagguran
sudah menjadi agenda yang utama. Secara umum, banyak yang sudah mengartikan
bahwa pengangguran ialah orang dewasa yang tak bekerja, masih mencari pekerjaan,
atau tidak mempunyai pekerjaan secara formal dan tidak memperoleh penghasilan.
Selain itu, Pada Badan Pusat Statistik (BPS) secara spesifik telah memberikan
definisi mengenai pengangguran yakni; setiap orang yang telah bekerja sekitar
kurang dari 1 jam pada setiap minggu.
Terdapat beberapa faktor yang paling mendasar dan menjadi
penyebab sehingga munculnya pengangguran. Pengangguran umumnya terjadi
disebabkan oleh adanya kesenjangan antara kesempatan kerja dan pencari kerja.
Pengangguran juga bisa disebabkan oleh adanya suatu perubahan struktural
didalam perekonomian. Perubahan tersebut menimbulkan adanya kebutuhan terhadap
tenaga kerja dengan segala jenis atau tingkat keterampilan yang berbeda-beda.
Sehingga, kualifikasi yang dipunyai oleh para pencari kerja tak sesuai dengan
tuntutan yang hadir. Dan yang seringkali juga terjadi ialah pengangguran yang
telah disebabkan oleh adanya pemutusan hubungan kerja terhadap buruh atau
karyawan yang biasa disebut PHK.
Akibat munculnya pengangguran tersebut maka dapat
menimbulkan segala macam persoalan sosial dan ekonomi bagi yang mengalaminya.
Orang yang tak mempunyai mata pencaharian juga tidak bisa mendapat penghasilan
dan yang tak berpenghasilan tak dapat membelanjakan uang dalam membeli barang
untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika jumlah penganggur sangat banyak maka akan
timbul kekacauan sosial, jika jumlah gelandangan semakin meningkat pesat maka
akan terjadi kriminalitasi yang terlalu tinggi.
Berdasarkan
semua uraian diatas maka sudah sangat jelas bahwa pengangguran adalah
permasalahan besar yang mesti segera selesaikan dan diberikan solusi. Langkah
yang nyata untuk bisa ditempuh yaitu dengan memperbaiki keadaan lapangan kerja.
Dengan semakin baiknya keadaan lapangan kerja maka kekerasan sosial yang disebabkan
oleh pengangguran dapat diatasi atau dikurang. Disamping itu, dapat memperbaiki
komposisi lulusan sarjana yang dihasilkan dan mesti disesuaikan dengan adanya
kebutuhan pasar tenaga kerja. Langkah yang baik lagi jika kita dapat memberikan
keterampilan yang memadai untuk mereka yang masih bekerja sehingga mampu
menciptakan lapangan kerja sendiri. Semua langkah tersebut mesti segera kita
laksanakan agar dapat memecahkan permasalah pengangguran yang tak kunjung
terselesaikan
Bagaimana Proses Terjadinya Gerhana Bulan ?
Gerhana bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh bayangan bumi. Itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus
yang sama, sehingga sinar Matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi
oleh bumi.
Dengan penjelasan lain, gerhana bulan
muncul bila bulan sedang beroposisi dengan matahari. Tetapi karena
kemiringan bidang orbit bulan terhadap bidang ekliptika sebesar 5°, maka tidak setiap oposisi bulan dengan Matahari akan mengakibatkan terjadinya gerhana bulan.
Perpotongan bidang orbit bulan dengan bidang ekliptika akan memunculkan 2 buah
titik potong yang disebut node, yaitu titik di mana bulan memotong bidang ekliptika. Gerhana
bulan ini akan terjadi saat bulan beroposisi pada node tersebut. Bulan membutuhkan
waktu 29,53 hari untuk bergerak dari satu titik oposisi ke titik oposisi
lainnya. Maka seharusnya, jika terjadi gerhana bulan, akan diikuti dengan gerhana Matahari karena kedua node tersebut terletak pada garis
yang menghubungkan antara Matahari dengan bumi.
Sebenarnya, pada peristiwa gerhana
bulan, seringkali bulan masih dapat terlihat. Ini dikarenakan masih adanya
sinar Matahari yang dibelokkan ke arah bulan oleh atmosfer bumi. Dan kebanyakan sinar yang dibelokkan ini memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya
pada saat gerhana bulan, bulan akan tampak berwarna gelap, bisa berwarna merah
tembaga, jingga, ataupun coklat.Gerhana bulan dapat diamati dengan mata telanjang dan tidak berbahaya
sama sekali. Ketika gerhana bulan sedang berlangsung, umat Islam yang melihat atau mengetahui
gerhana tersebut disunnahkan untuk melakukan salat gerhana bulan.
5.Contoh Teks Ulasan/ Review Drama
Teks Ulasan Film ”Laskar Pelangi”
Laskar Pelangi adalah salah satu film terbaik karya anak
Indonesia. Film tersebut diproduksi pada tahun 2008. Film yang diangkat dari
novel berjudul sama karya Andrea Hirata ini sukses menjadi film terpopuler pada
awal kemunculannya. Hal tersebut tidak terlepas dari tangan seorang Riri Riza
yang bertindak sebagai sutradara dan Mira Lesmana sebagai produser.
Hal
yang menarik dari film Laskar Pelangi ini adalah dipilihnya anak-anak asli
Belitung sebagai pemeran masing-masing tokoh utamanya. Tokoh-tokoh yang
diperankan antara lain Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian), Mahar (Verrys
Yamarno), dan teman-temannya yang lain. Kehadiran anak-anak asli Belitung ini
memberikan kesan mendalam, terutama didukung oleh kemampuan mereka dalam
bermain peran yang sangat natural.
Film ini bercerita mengenai persahabatan kesepuluh anak di
sebuah sekolah kecil SD Muhammadiyah di Pulau Belitung. Meski awalnya sekolah
tersebut terancam ditutup akibat minimnya peminta, namun kesepuluh anak
tersebut mampu bertahan di sekolah tersebut di bawah asuhan Bu Muslimah (Cut
Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara). Film tersebut juga menyuguhkan cerita emosional,
yaitu mengenai Lintang, seorang anak miskin yang harus bertahan hidup demi
adik-adiknya.
Banyaknya penonton yang terpikat dengan film ini disebabkan
isi cerita yang memberikan nuansa lain pada film Indonesia. Ceritanya menarik
dengan didukung oleh kemampuan para aktor dan aktrisnya yang sangat baik.
Selain itu, latar tempat di film ini dikemas dengan sangat apik, yaitu dengan
mempertontonkan keindahan Pulau Belitung dengan latar waktu beberapa tahun
silam.
Mudah-mudahan contoh
teks ulasan film diatas bisa membantu Anda. Semoga bermanfaat.
Teks Ulasan Film “Assalamualaikum
Beijing”
Assalamualaikum
Beijing adalah sebuah film produksi Maxima Pictures yang bercerita
tentang kisah kehidupan seorang muslimah di
Beijing dan cinta dua insan yang beda
agama dan negara. Film ini dibintangi Revalina S. Temat,
Morgan Oey, Laudya Chyntia, Deddy Mahendra, Ibnu
Jamil, dan lain-lain. Diproduseri oleh Yoen K, Ody
Mulya dan disutradarai oleh Guntur Soeharjanto. Film ini juga merupakan
adaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama dari penulis
bernama Asma Nadia. Yang menarik, kisahnya merupakan kisah nyata.
Dikisahkan, sehari sebelum pernikahan dilangsungkan, Asmara (Revalina S. Temat) mendapatkan kenyataan pahit bahwa kekasihnya, Dewa (Ibnu Jamil) ternyata sempat berselingkuh dengan teman sekantornya Anita (Cynthia Ramlan). Walau Dewa memohon agar pernikahan tetap dilanjutkan, Asma terlanjur patah hati. Terlebih, hubungan sekali yang dilakukan ternyata membuahkan janin, Anita hamil.
Dikisahkan, sehari sebelum pernikahan dilangsungkan, Asmara (Revalina S. Temat) mendapatkan kenyataan pahit bahwa kekasihnya, Dewa (Ibnu Jamil) ternyata sempat berselingkuh dengan teman sekantornya Anita (Cynthia Ramlan). Walau Dewa memohon agar pernikahan tetap dilanjutkan, Asma terlanjur patah hati. Terlebih, hubungan sekali yang dilakukan ternyata membuahkan janin, Anita hamil.
Dengan membawa kesedihan, Asma pun menerima tawaran pekerjaan di
Beijing, peluang yang didapatkan lewat bantuan Sekar (Laudya Cynthia Bella) dan
Ridwan (Deddy Mahendra Desta), suaminya. Di Beijing dalam salah
satu perjalanan, Asma bertemu Zhongwen (Morgan Oey), lelaki tampan yang
memperkenalkannya akan legenda cinta Ashima, putri cantik dari Yunan.
Kebaikan dan perhatian Zhongwen, membuat Asma perlahan
membuka hati. Walaupun sempat gamang ketika Dewa menyusulnya ke Beijing.
Sayang, sebelum hubungan berlanjut, Asma terkena APS, sebuah sindrom
yang membuat nyawanya terancam dan bisa menemui kematian
setiap waktu.
Film yang dirilis pada 30 Desember 2014 lalu ini kental nuansa film '99 Cahaya di Langit Eropa (2013)", terutama saat bagian Asmara menjalani kehidupan barunya di Beijing. Sepertinya, Guntur Soeharjanto memang sengaja kembali memberikan sentuhan film sukses tersebut pada Assalamualaikum Beijing. Mulai dari gaya narasi hingga gaya traveling dengan membawa kamera yang sangat identik dengan film 99 Cahaya di Langit Eropa. Mata Anda akan dimanjakan dengan berbagai tempat wisata khas Beijing dan Tiongkok yang sangat indah. Anda seperti diajak untuk merasakan serunya mengunjungi tempat wisata di sana. Dan yang pasti, hal itu akan menggugah Anda untuk jalan-jalan ke Beijing. Yang tak kalah menarik adalah begitu rapinya tata kota Beijing, mulai dari gedung, tempat umum, hingga transportasinya.
Film yang dirilis pada 30 Desember 2014 lalu ini kental nuansa film '99 Cahaya di Langit Eropa (2013)", terutama saat bagian Asmara menjalani kehidupan barunya di Beijing. Sepertinya, Guntur Soeharjanto memang sengaja kembali memberikan sentuhan film sukses tersebut pada Assalamualaikum Beijing. Mulai dari gaya narasi hingga gaya traveling dengan membawa kamera yang sangat identik dengan film 99 Cahaya di Langit Eropa. Mata Anda akan dimanjakan dengan berbagai tempat wisata khas Beijing dan Tiongkok yang sangat indah. Anda seperti diajak untuk merasakan serunya mengunjungi tempat wisata di sana. Dan yang pasti, hal itu akan menggugah Anda untuk jalan-jalan ke Beijing. Yang tak kalah menarik adalah begitu rapinya tata kota Beijing, mulai dari gedung, tempat umum, hingga transportasinya.
Dari
sisi cerita, Guntur Soeharjanto lewat Assalamualaikum Beijing lagi-lagi
cukup berani untuk menampilkan sebuah kisah cinta di mana di dalamnya
terdapat berbagai perbedaan dan pertentangan budaya dan Agama. Di film ini
Guntur juga kembali menggambarkan bagaimana kehidupan muslim sebagai
minoritas di Tiongkok serta bagaimana mereka bisa membaur di
tengah-tengah masyarakat yang sangat heterogen.
Meski memiliki cerita yang cukup serius dan melankolis, namun adanya Deddy Mahendra Desta dengan humornya membuat emosi yang ada di film Assalamualaikum Beijing ini menjadi dinamis. Anda tidak melulu akan melihat keharuan, melainkan juga komedi ringan yang bisa sedikit mengubah emosi dan suasana. Akting Revalina S. Temat juga patut diacungi jempol, terutama ketika Asmara jatuh sakit karena stroke dan itu bagian yang patut ditonton.
Meski memiliki cerita yang cukup serius dan melankolis, namun adanya Deddy Mahendra Desta dengan humornya membuat emosi yang ada di film Assalamualaikum Beijing ini menjadi dinamis. Anda tidak melulu akan melihat keharuan, melainkan juga komedi ringan yang bisa sedikit mengubah emosi dan suasana. Akting Revalina S. Temat juga patut diacungi jempol, terutama ketika Asmara jatuh sakit karena stroke dan itu bagian yang patut ditonton.
Teks
Ulasan Film “Tanah Surga Katanya”
Sebuah
film yang berceritakan seorang warga negara Indonesia yang cinta terhadap tanah
air Indonesia ini mengadung pesan moral yang amat tinggi yang akhir-akhir
ini sering terabaikan. Film ini berjudul “Tanah Surga Katanya” , dapat dilihat
dari judulnya film ini merupakan sebuah sindiran halus pada pemerintah
Indonesia dari daerah perbatasan negara Kalimantan Barat.
Salah satu tokoh dalam film ini adalah seorang pahlawan RI yang pernah berjuang
merebutkan kemerdekaan Indonesia. Maka dari itu beliau sangat cinta terhadap bangsa
Indonesia. Beliau diwakili oleh tokoh yang bernama Hasyim, beliau adalah kakek
dari Salman dan Salina. Salman dan Salina adalah kakak beradik yang tinggal
dengan kakeknya diperbatasan negara Indonesia dengan Malaysia tepatnya di
Kalimantan Barat, ibu dan neneknya yang sudah meninggal dan ayahnya yang
merantau di negeri tetangga untuk mencari kesejahteraan hidup.
Dalam film “Tanah Surga Katanya” sikap moral yang disarankan kepada penonton
adalah bersyukur. Warga Indonesia yang telah berjuang untuk mendapatkan
kemerdekaan Indonesia ini yang tinggal di perbatasan negara Indonesia dengan
Malaysia kehidupan sehari-harinya sangatlah terbatas, sedangkan para pejabat
negara yang menikmati fasilitas serba mewah dari negara jusru malah menyalahgunakan
kewajibannya. Tak hanya sarana pendidikan saja akan tetapi sarana jaminan
kesehatan pun masih sangat minim, dengan di tambah rumah sakit yang jauh dari
kampung. Jika ingin pergi berobat atau merujuk ke rumah sakit harus melalui
perjalanan yang sangat jauh dan sarana transportasi juga sangat sulit bilapun
ada ongkos transportasinya akan sangat mahal.
Layaknya dongeng anak dalam majalah, film “Tanah Surga Katanya” menyampaikan
ajaran moral pada anak-anak untuk bangga dan cinta kepada negaranya sendiri.
Terlihat saat saat Ibu Astuti satu-satunya guru yang mengajar di daerah
tersebut, ketika beliau menanyakan PR nya menggambar bendera merah putih pada
anak didiknya kelas 3 SD, hasilnya sangat mengejutkan. Setelah semua PR mereka
angkat hampir semua salah dalam mengambar bendera merah putih, akan tetapi
hanya ada satu anak yang dapat menggambar bentuk dan warna bendera merah putih
yang benar, siswa itu bernama Salina. Salina ialah adik dari Salman yang
merupakan siswa pintar di kelas 4 dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.
Kedua anak itu ialah cucu dari Kakek Hasyim. Tiap malam Kakek Hasyim
mendampingi kedua cucunya belajar, tak hanya mendampingi saja akan tetapi
setiap malam pula sang kakek selalu menceritakaan pengalamannya pada saat melawan
penjajah dan tentang seputar tanah Indonesia. Kejadian yang lebih mengejutkan
dari siswa-siswi di sana ialah tak hanya mereka tidak mengetahui bendera merah
putih saja, pada saat Ibu Guru Astuti pergi ke Kota ada keperluan, sekolah di
ajar dengan seorang dokter baru di tempat itu yang biasa dipanggil Dokter
Intel, pada saat Dokter Intel menyuruh anak-anak kelas 3 dan 4 menyanyikan lagi
kebangsaan Indonesia, mereka malah menyanyikan lagu Kolam Susu.
Jauh lebih mengenaskan lagi, warga disana adalah warga negara Indonesia akan
tetapi mata uang yang digunakan disana ialah mata uang negara Malaysia yaitu
ringgit dan bahasa yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari pun bahasa
Melayu. Ini terlihat saat Pak Dokter baru datang ke kampung itu dan dia
memberikan upah kepada salah satu anak kampung itu karena dia telah membantu
membawakan barang-barangnya dari kapal ke rumah Kepala Dusun. Pak Dokter baru
tersebut memberikan uang kepada anak tersebut sebesar Rp.50.000 akan tetapi
anak itu malah kaget dan bertanya “uang macam ini? Saya tak pernah melihat uang
macam ini.” Ini dikarenakan hampir seluruh warga disana mencari uang di negeri
tetangga yang lebih dekat dan lebih mudah. Digambarkan di film ini perbatasan
negara Indonesia dengan Malaysia hanya berbatasan jalan tanah dan jalan aspal.
Jalan tanah berarti mulai masuk Indonesia dan jalan aspal bertanda bahwa telah
masuk wilayah Malaysia.
Tekanan batin sang kakek yang cinta akan negara Indonesia ini terlihat saat
anak Kakek Hasyim yang bernama Haris atau ayah dari Salman dan Salina berkerja
di negara tetangga yaitu negara Malaysia, suatu ketika setelah 1 tahun di sana
dia pun kembali ke kampung halamannya. Kepulangannya tersebut tidak lain ialah
bertujuan untuk mengajak ayahnya dan kedua anaknya untuk pindah dari kampung
halamannya dan tinggal menetap di Malaysia menjadi warga negara Malaysia secara
sah. Alasan Haris mengajak Kakek Hasyim dan kedua anaknya untuk pindah dan
tinggal menetap di Malaysia ialah di negara Malaysia sana dia merasa kebutuhan
hidupnya lebih tercukupi dan lebih sejahtera, tak hanya itu ternyata Haris
sudah menikah lagi dengan wanita Malaysia. Kakek Hasyim terus menolak ajakan
anaknya tersebut dikarenakan alasannya yaitu kakek telah berjuang dari jaman
dahulu untuk mengabdi kepada negara ini merebutkan sebuah kemerdekaan, sehingga
Kakek Hasyim tidak mau meninggalakan tanah air yang sudah ia susah payah
pertahankan. Akhirnya Haris hanya membawa anak perempuannya saja untuk
berpindah ke Malaysia, karena ayahnya tidak mau ikut berpindah ke Malaysia dan
Salman lebih memilih tinggal dengan kakeknya di kampung.
Sebuah sindiran halus kepada pejabat yang waktu itu datang mengunjungi kampung
ini pun terjadi dari puisi yang dibacakan oleh Salman saat dipertunjukan penyambutan
pejabat yang sedang mengunjungi kampung tersebut. Nampak secara tiba-tiba muka
pejabat ini manjadi kesal karena mendengarkan puisi yang dibacakan oleh Salman
yang berjudul “Tanah Surga Katanya”, didalam puisi tersebut ia membawa nama
kakeknya dengan kalimat “...tapi kata kakekku...”.
Tak hanya tekanan batin saja yang tergambarkan di sini akan tetapi tekanan
ekonomi terjadi pula pada keluarga Kakek Hasyim. Kehidupan kakek dan Salman
dikampung yang serba minim sedangkan ayah Salman yang berkecukupan di negara
tentangga. Pada saat penyakit kakek semakin parah dan harus dibawa ke rumah
sakit pun terkendala biaya. Ini menyebabkan Salman selain ia bersekolah ia juga
berkerja mengantarkan barang dagangan ke pasar negara tetangga tersebut untuk mendapatkan
uang guna membiayai berobat kakeknya. Pasarnya tidak jauh dari kampung itu,
karena hanya cukup dengan jalan kaki melewati perbatasan darat yang hanya
digambarkan perbedaan jalan tanah dan aspal, maka akan sampailah ke pasar. Pada
saat mencari uang ke pasar Malaysia terdekat Salman bertemu dengan ayahnya dan
Salina.
Sebuah pesan moral yang amat dalam tercipta dalam film ini yaitu saat Salman
mengantarkan dangannya ke pasar Malaysia terdekat ia melihat kain merah putih
yang digunakan untuk kain pembungkus dagangan oleh salah seorang pedagang di
pasar tersebut. Dia tidak tahan melihat sang saka merah putih diperlakukan
semacam itu. Saat dia telah membeli 2 sarung yang niatnya akan di berikan untuk
kakeknya, akhirnya dengan melihat hal semacam itu Salman memberikan salah satu
sarung tersebut kepada pedangan tersebut untuk di tukarkan dengan kain merah
putih. Dan akhirnya Salman pulang ke kampungnya dengan membawa bendera marah
putih yang ia kibarkan sambil dibawanya berlari pulang.
Cerita penutup yang begitu menyentuh hati. Cerita ini diakhiri ketika penyakit
kakek Hasyim pada saat itu sampai puncak keparahannya,dan Dokter Intel pun
menyarankan kakek untuk dibawa ke rumah sakit. Dan disaat inilah Salman
memberikan uang yang telah ia dapat dan kumpulkan dari hasil kerjanya ia
berikan kepada Dokter Intel dan Bu Astuti untuk membawa Kakek Hasyim ke kota
untuk dirawat di sana. Keesokan harinya pun kakek Hasyim, Salman, Dokter Intel,
dan Bu Astuti pergi ke kota terdekat untuk membawa Kakek Hasyim ke rumah sakit
dengan menggunakan perahu tradisonal. Perjalanan yang amat panjang ini
menyebabkan Kakek Hasyim tidak tertolong. Kakek Hasyim meninggal dalam
perjalanan. Dan saat itu pula justru Haris sedang asik memeriahkan kemenangan
sepak bola Malaysia atas kekalahan Indonesia.
Peristiwa
bertemu Salman dengan Salina dan ayah saat dia pergi ke pasar untuk
mengantar dagangan tersebut terlihat sangatlah mudah sekali. Ini tidak wajar
dalam kehidupan dunia nyata. Salman yang tidak tau Malaysia, hanya dengan asal
jalan dia bertemu dengan adik dan ayahnya. Dimana seharus orang pembantu yang
menemukankan ayah dan anaknya ini. Dan tidak masuk akal Salman seorang anak
yang duduk di kelas 4 SD bisa hafal jalan pulang yang baru ia temukan sekali
itu, itu pun hanya asal dia berjalan untuk menemui rumah ayahnya yang ada di
Malaysia.
Penggambaran kecintaan pada tanah air yang sangat bagus
dan menyampaikan pesan moral yang sangat dalam. Film musikal yang bercerita
cinta tanah air dengan iringi lagu kebangsaan saat terjadi peristiwa yang luar
biasa, menambah nilai postif dalam penyampaian pesan di film “Tanah Surga
Katanya”.
Dalam
cerita film “Tanah Surga Katanya” dapat kita ambil kesimpulan bahwa negara
Indonesia ini sangatlah luas. Untuk mencapai kata makmur dan sejahtera untuk
seluruh Indonesia ini sangatlah sulit, dibutuhkan kerja yang ekstra dari
seluruh warga negara. Rasa cinta tanah air perlu ditanamkan sejak dini karena
dengan menanamkan rasa cinta tanah air sejak dini generasi muda akan terbiasa
dengan cinta terhadap tanah airnya. Apalagi ditengah zaman globalisai semacam
ini jika tidak ditanamkan rasa cinta tanah air sejak dini maka hancurlah negeri
ini dan kembali dijajah lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar